Sesekali Melihat Ke Bawah

Posted on Posted in Opini

Selamat sore, teman – teman yang sudah hadir dan membaca tulisan saya di blog sederhana ini, akhirnya kembali ngeblogging setelah vakum sekian waktu.

Pertama, saya ingin mengucapkan selamat datang dan ucapan terimakasih buat teman – teman yang menyempatkan diri membaca postingan saya ini, terutama mas – mas dan mbak – mbak dari BEM FTIf ITS yang sekarang lagi membaca tulisan saya ini. 🙂

Singkat kata, melalui tulisan ini saya ingin membagikan pengalaman saya mengikuti FTIf Journey yang dilakukan 27 – 28 Februari 2016 kemarin sekaligus sebagai bahan penugasan yang diberikan mbak dan mas pembina dari BEM FTIf. What is better than doing something you love and sharing something you have?

Oke….. Langsung saja.

Jadi, kemarin Sabtu – Minggu di Jurusan Sistem Informasi ITS dilakukan kegiatan FTIf Journey. Ya semacam event tahunan di fakultas saya ini sih. Kegiatan hari pertama dimulai pukul 6.30 di hari Sabtu, 27 Februari 2016.

TAPI………. Di hari pertama saya gaikut hehehhee…..

KENAPA? Karena ada lomba internal di jurusan saya (Teknik Informatika). Nama lombanya adalah TCode, jadi lomba buat angkatan 2014 – 2015 untuk berkompetisi ngoding. Saya berpikir lomba ini cukup menantang, kapan lagi bisa ikut lomba ngoding tanpa proses kualifikasi, gratis, dapet konsumsi dan terutama bisa ngelawan kating yang notabene udah ‘matang’ dalam mengoding dan asdos sendiri ketika Dasprog?

Kalau ditanya kenapa saya memilih ikut TCode daripada FTIf Journey?

Simpel, lomba ini sudah saya tunggu – tunggu sejak semester 1, jadi ya gamau melewatkan kesempatan. Walaupun saya nggak menang, tapi lumayan, dari 14 peserta saya berhasil finish di urutan 6. *Prok* *Prok* *Prok*

Ehm… Kenapa saya jadi sharing tentang TCode ya? Harusnya kan FTIf Journey….. Maaf, mbak, mas.

Oke lanjut…..

Seperti yang saya bilang saya hadir di acara hari kedua saja, dimana hari kedua ini adalah puncak acaranya (walaupun dari yang saya dengar di hari kedua ini jumlah peserta turun dibandingkan kemarin).

Tanggal 28 Februari, saya berangkat ke gedung jurusan Sistem Informasi setelah bangun telat, disuruh kumpul jam 6.30 saya baru bangun 6.20. Untung semua persiapan sudah saya siapkan kemarin, sehingga setelah mandi saya langsung berangkat dan ngebut ke gedung SI naik motor.

Ehhh….. Ternyata parkiran aja belum dibuka, setalah menunggu beberapa lama bersama teman – teman akhirnya pintu parkiran dibuka, kemudian kami menunggu lagi sampai disuruh masuk. Tak lama kemudian, kami disuruh berkumpul di Plaza SI, setelah dikumpulkan ada mas – mas yang berdiri di depan yang akan memberi kita pengarahan. Nama masnya yang saya ingat adalah Mas Fany (karena dia asdos StrukDat saya 🙂 ).

Selama mengisi waktu, Mas Fany bercerita tentang kisahnya di semester 1 – 4. Mulai dari jeleknya nilai dia dulu sampai dia semangat belajar. Kemudian kami dikumpulkan kedalam kelompok kami masing – masing. Saya sendiri ada di kelompok 7 kaya Naruto, yang namanya Yudhistira. Pemandu kelompok saya (IC atau OC?) adalah Mbak Gals dari SI 2013. Sedangkan teman saya yang hadir saat itu ada 6 orang termasuk saya, yaitu Didin, Yuga, Hania (3 anak ini merupakan teman satu jurusan), kemudian ada Kiki dan Elsa.

IMG_6266

Kami diberi pengarahan tentang kemana kami akan pergi dan apa yang akan kami lakukan. Saya terkejut, karena saya kira kita akan pergi ke tempat yang agak jauh, ternyata tujuan kami adalah daerah Terminal Keputih atau Keputih Tegal yang adalah daerah di belakang kost saya. Dari Mbak Gals, kita diberitahu bahwa kita akan mempelajari kehidupan sosial orang – orang yang ada disana, entah pedagang, tukang becak, pemulung dll.

Jujur saja, awalnya saya agak males – malesan karena terbayang kebosanan dan kegaringannya bila melakukan survei seperti itu. Tapi, hitung – hitung jalan – jalan dan saya sudah terlanjur disana, yasudah deh…… Kemudian kami berangkat dengan 5 motor ditemani Mbak Gals dan satu lagi mas – mas yang saya lupa namanya, dan satu lagi Mas Stanley sebagai juru kamera. Kami menuju daerah Keputih Tegal, tak lama kami melewati sebuah pemungkiman pemulung, kami pun menghampirinya.

Kami berkenalan dengan salah seorang ibu yang tinggal disitu, namanya adalah Bu Sumtama. Kami mengobrol dan bertanya – tanya tentang kehidupan di tempat itu. Dari cerita Bu Sumtama, rumah – rumah disitu berbentuk rumah – rumah petak yang tiap rumahnya bisa ditinggali sampai 3 keluarga. Rumah – rumahnya pun hanya terbuat dari triplek dan seng, dengan listrik yang sepertinya ‘mencuri’ dari jaringan listrik utama, karena tiangnya yang terbuat dari bambu dan kebelnya yang ruwet. Lingkungannya pun….. yah tidak bisa dibilang bersih. Selama kita mengobrol dengan Bu Sumtama, saya sering tercium bau – bau sampah dan bau lain yang tidak sedap. Tanah di depan rumah petak Bu Sumtama pun becek dan dipenuhi dengan kardus yang sedang dijemur. Saya sendiri mungkin tidak akan bisa tinggal di tempat itu karena saya tidak tahan kotor.

IMG_20160228_100103[1]

Jumlah orang yang tinggal di pemungkiman itu bisa mencapai ratusan orang, kata Bu Sumtama. Jumlah anggota per keluarga pun bermacam – macam, ada yang memiliki satu anak, dua anak, bahkan ada yang sampai memiliki 5 anak.  Saya cukup kaget ketika mendengarnya, maaf bukannya mau sombong, tapi dengan keadaan ekonomi yang kurang mampu kok bisa ya berpikir sampai memiliki 5 anak? Yah, mungkin akan ada yang salah paham dengan perkataan saya barusan, jadi kita lanjut saja……

Bu Sumtama sendiri memiliki 3 anak (atau 2 anak?, lagi – lagi penyakit lupa saya menyerang). Seingat saya, salah satu anak Bu Sumtama bersekolah di SMK terdekat, lalu ketika, lulus umur 22 tahun sudah minta menikah (saya kaget juga disini) kemudian hidup di kampungnya di Lamongan.  Kemudi

an, ada satu lagi anaknya yang ikut hidup disitu dan memiliki 2 anak. Yang satu berumur 4 tahun dan satunya 2 tahun. Yang berumur 4 tahun bersekolah di Paud yang letaknya tidak jauh, yang berumur 2 tahun sudah bermimpi ingin sekolah, kata Bu Sumtama dia sering membawa tas mengikuti kakaknya untuk pergi bersekolah. Sedangkan, suami Bu Sumtama sendiri sudah meninggal.

Setelah berbincang beberapa lama, kami mohon pamit dan memberikan sembako (yang hanya terdiri dari gula dan minyak goreng) kepada Bu Sumtama. Kemudian, kami melihat – lihat daerah pemungkiman tersebut,

1456667825479[1]

ternyata memang masih banyak rumah lain di belakang dan lingkungannya tidak terlalu bersih. Setelah puas melihat – lihat, kami mencari narasumber lain dengan melanjutkan perjalanan, kami pun sampai di daerah hutan bambu yang cukup besar di samping Terminal Keputih.

Disitu kami bertemu dengan Bu Patiem yang sudah amat tua dan berbicara dengan bahasa Jawa tingkat tinggi atau biasa disebut krama inggil. Diantara kami semua tampaknya hanya Elsa, Hania dan Didin saja yang mengerti perkataan Bu Patiem. Saya hanya menangkap beberapa kata, itupun tak mengerti artinya, hanya tau maksudnya. Dari apa yang saya tangkap dan diceritakan teman – teman, yang saya tahu bahwa Bu Patiem tinggal bersama suaminya yang saat ini sedang sakit. Bu Patiem tidak memiliki kerabat dekat lagi disini dan keluarganya pun banyak mengalami masalah. Orang tuanya bercerai dan anak – anaknya sudah menikah namun banyak juga yang bercerai. Bu Patiem mendapat penghasilan dari menggembalakan kambing – kambingnya.

1456667935199[1]

Seperti sebelumnya, setelah kami mengobrol dengan Bu Patiem kami pamit dan memberikan sedikit sembako (yang hanya terdiri dari minyak goreng dan gula). Karena masih ada waktu kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di hutan bambu sambil mengobrol dan berfoto – foto ria. Ketika jam menunjukkan pukul 11.40 kami segera kembali ke gedung SI, karena jam 12 harus sudah sampai disana.

Disana kami diberi waktu untuk istirahat dan makan selama kurang lebih 1 jam. Saya sendiri memanfaatkan waktu ini untuk tidur di ruangan TC-105. Setelah waktu istirahat selesai, kami kembali dikumpulkan dengan menggabungkan 2 kelompok, kelompok 7 digabungkan dengan kelompok 4 dan difasilitasi oleh seorang SC, waktu itu SC kelompok 7 adalah Mas………..saya lupa lagi namanya. Mas ini cukup asik dalam mengajak kita sharing dengan cara permainan sehingga tidak membosankan. Kami memainkan games Angka 7, jadi setiap orang berhitung dari satu dan bertambah terus, setiap ada angka 7 dalam hitungan atau angka tersebut adalah kelipatan 7, kita harus berkata “BOOM”. Bila kita salah, maka kita harus mensharingkan pengalaman kita pada observasi.

Satu – persatu korban untuk mensharingkan berjatuhan termasuk Mas SC sendiri dan saya pun juga kena. Cerita – cerita yang diungkapkan oleh teman – teman menurut saya pribadi sangat menarik. Karena, dari cerita mereka saya menyadari satu hal, sebenarnya semua orang memiliki kepekaan sosial di dalam dirinya, tidak peduli mau orang yang pintar, kurang pintar, terlihat unsos, yang feminim, kita semua pada dasarnya memiliki kepekaan sosial. Ini terbukti karena mereka semua merasakan hal yang sama, yaitu keprihatinan ketika berinteraksi dengan orang yang kekurangan secara ekonomis dan mereka pun juga kagum dengan semangat orang – orang tersebut untuk terus bekerja. Bahkan, ada satu dari mereka yang sedih mendengar keadaan salah satu narasumbernya.

Kemudian, setelah sesi sharing selesai, kami melanjutkan ke tahap akhir acara FTIf Journey 2016, yaitu SimTot (bukan asimtot pada kurva ya :)). Perwakilan tiap jurusan yaitu para komting dan seorang Kaforkom diberi instruksi oleh mas dari BEM FTIf baru instruksi tersebut diteruskan ke peserta lainnya. Instruksinya adalah kami diminta mencari dan mengumpulkan semua potongan kertas berwarna yang dikumpulkan di hari sebelumnya untuk membuat papermob.

Susah payah kami berkeliling gedung SI untuk mengumpulkan kertas itu dan seperti biasa……meladeni keisengan para kating. Setelah terkumpul cukup banyak, para pemuka – pemuka angkatan pun langsung mengkoordinir formasi membentuk tulisan FTIf. Dengan anak – anak yang sedikit sulit bekerja sama dan berbalapan dengan langit yang mulai mendung, kita berusaha membentuk formasi FTIf dan memegang kertas diatas kepala sebagai warna huruf.

CEKREK..!!!! Formasi pertama selesai.

Formasi berikutnya membentuk tulisan “2015”, sepertinya cukup sulit karena mengatur formasinya agak lama dan berkali – kali ada perintah untuk merapatkan barisan. Akhirnya….

CEKREK…!!! Formasi kedua selesai.

Saya kira ada formasi ketiga, namun ternyata itu adalah penghujung acara FTIf Journey 2016, kami dipersilahkan untuk berkemas, kemudian berdoa penutup lalu pulang.

Dari FTIf Journey ini, saya mendapatkan tema yang ingin ditekankan oleh mas dan mbak dari BEM FTIf. Yaitu, kita adalah makhluk sosial, bukan makhluk akademis.

Kita ini makhluk sosial, wajar jika kita memiliki kepekaan sosial. Tapi, masalahnya………… terkadang kita tidak peka karena sibuk dengan hal lain. Entah karena tugas, urusan kuliah, organisasi, tuntutan sosial dan bahkan cita – cita pribadi.

Berarti menyibukkan diri itu salah? TENTU TIDAK.

Hal yang bagus jika kita sibuk dengan hal – hal berguna daripada sibuk untuk hal yang tidak jelas, terutama soal pendidikan. Pendidikan bukan hanya soal akademik, jika hanya soal akademik itu namanya mata pelajaran atau mata kuliah. Pendidikan berarti bagaimana kita menggali ilmu supaya menjadi lebih baik. Hal itu bisa ditempuh lewat sekolah dan berkuliah. Lebih baik lagi jika kita memiliki cita – cita, karena dengan memiliki cita – cita kita punya arah kemana kita akan pergi.

Terkadang, karena mengejar cita – cita itulah yang menjauhkan kita dari kepekaan sosial. Apalagi, disini saya berkuliah di sebuah perguruan tinggi negri, dimana sebagian besar dananya berasal dari pemerintah. Bila kita usut, PTN dapat uang dari pemerintah, pemerintah dapat uang sebagian besar dari pajak masyarakat, berarti secara nggak langsung mahasiswa PTN sebagian biaya kuliahnya dari masyarakat. Sedangkan, kita berkuliah enak – enak aja, belajar, pake wifi, pake gedung dan bahkan saking enaknya sampe ada yang bolos – bolos, titip absen, kuliah asal – asalan buat kepentingan kita ngejar cita – cita (kalau punya). Sedangkan, kita nggak ‘balas jasa’ kepada yang nyumbang sebagian biaya pendidikan kita. Rasanya sih sedikit nggak adil.

“Berarti mahasiswa PTN aja dong yang ‘balas jasa’?”

NGGAK LAH. Kan semua mahasiswa asalnya dari masyarakat juga, anda yang punya rejeki lebih buat pendidikan, masa nggak mau membantu sesama masyarakat?

Itulah pesan utama yang saya dapatkan selama FTIf Journey 2016 selama 1 hari kemarin. Kita sebagai mahasiswa tentu sebagai orang terpelajar yang merupakan bagian dari masyarakat juga. Kita cukup beruntung bisa memperoleh pendidikan hingga setingkat perguruan tinggi. Kita sebagai bagian dari masyarakat, tak seharusnya lepas tangan dari permasalahan yang ada di masyarakat. Masalah masyarakat, masalah kita juga. Maka, bagi saya pribadi, nggak ada gunanya menjadi mahasiswa yang kerjanya demo ke pemerintah melulu walaupun dengan alasan menyampaikan aspirasi rakyat, apalagi kalau saya sampai merusak, validitasnya sebagai orang berpendidikan menurut saya dipertanyakan, karena mereka dan kita yang punya kesempatan memiliki pengetahuan lebih baik harusnya membantu. Kita bisa mendapat ilmu sampai setingkat perguruan tinggi tentu bukan hal yang remeh, ilmunya tentu relatif tinggi dan tentunya bisa dipergunakan. Karena, pendidikan adalah kunci suatu masalah. Setidaknya, itu yang saya percayai, saya pun menjadi tambah percaya akan hal ini karena mengikuti acara kemarin.

Lantas, apakah kita harus melakukan baksos rutin untuk membantu masyarakat yang kurang mampu? Apakah kita harus menggalang dana terus menerus untuk mereka? TIDAK. Itu namanya memanjakan mereka, bukan membantu mereka. Kita bisa membantu mereka dengan kemampuan dan fasilitas yang memang kita miliki. Misalnya, dengan PKM, atau dengan berwirausaha misalnya yang membutuhkan dan menyerap tenaga kerja. Dan masih banyak lagi.

Oiya…. Satu pesan penting yang juga saya dapatkan kemarin, adalah ketika Bu Sumtama bercerita bahwa cucunya yang berumur 2 tahun mengikuti kakaknya dengan membawa tas dan berkata bahwa dia ingin sekolah. Disini, saya menyadari satu hal lagi, pada dasarnya semua orang INGIN bisa memiliki ilmu pengetahuan dan mengenyam pendidikan, tetapi tak semuanya bisa mendapatkannya karena terhalang banyak hal, entah kekurangan secara ekonomi, fisik , daerah dan lain – lain. Hal ini menjadi intropeksi bagi saya sendiri yang terkadang suka malas berangkat kuliah dan mengerjakan tugas walaupun sudah bermodal banyak, seperti motor, laptop, handphone, kostan yang nyaman dan banyak lagi. Melalui FTIf Journey ini, banyak hal yang bisa saya dapatkan sebagai bahan renungan, motivasi sekaligus intropeksi untuk lebih mensyukuri apa yang telah saya miliki.

Maka, saya baru sadar kenapa FTIf Journey 2016 menggunakan hashtag #SocialHeroes.

#KarenaFilmSuperheroUdahTerlaluBanyak.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *