Sekolah, Nilai atau Ilmu?

Posted on Posted in Opini

Mungkin pertanyaan semacam ini nggak jarang keluar di pikiran – pikiran kaum pelajar, biasanya sih untuk tingkat pendidikan dasar (SD, SMP, SMA). Gue yakin diantara kita semua pernah mendengar nasihat / ungkapan macam ini. “Sekolah bukan untuk cari nilai, tapi buat cari ilmu”. Umumnya, bedasarkan pengalaman gue, nasihat ini sering dateng dari kalangan guru dan orang tua. Gue pribadi pun terkadang suka tergelitik dan kepikiran ketika denger ungkapan macam ini.

Sekarang, coba kita tanya ke anak – anak TK.
“Adik – adik, dimana tempat kita menuntut ilmu?”Gue yakin, 99,99% jawabannya adalah “SEKOLAH”

Lalu, coba kita tanya ke kakek kita.
“Kek, tempat nuntut ilmu dimana sih?”
Sekali lagi gue yakin jawabannya 95 % adalah “Sekolah”

Kesimpulannya, dari anak – anak TK yang masih polos, sampe kakek – kakek yang udah kenyang asam garam, dari yang makannya singkong doang sampe coklat Swiss, hampir semua tau bahwa tempat menuntut ilmu tak lain dan tak bukan adalah…….sekolah.

Sekarang baik yang sesama pelajar maupun orang tua yang membaca tulisan gue ini, coba inget masa – masa kita sekolah. Renungkan semua hal yang pernah dialamin, baik PR, PS, tugas, kerja kelompok, ulangan harian, ulangan umum sampe ujian kelulusan. Renungkan dan pikirkan baik – baik, “Benarkah semua itu kita lakukan untuk mencari ILMU? Atau cuma sekedar nilai 100 aja ?”

Sudah menjadi stigma umum termasuk bagi siswa dan guru – guru, “Nilai bagus berarti siswa udah mengerti dan memahami suatu ilmunya”. Benarkah demikian? Sampai – sampai ketika siswa mendapat nilai dibawah KKM, harus mengikuti ulangan remedial / perbaikan, supaya nilai nya bisa diatas KKM dan dinyatakan lulus.

Ulangan / Tes sejatinya menurut para pakar pendidikan adalah, “Suatu cara untuk mengevaluasi kepahaman siswa tentang suatu materi pelajaran, kepahaman tersebut diukur dengan suatu standar yang disebut NILAI”.  Berarti, bila mengacu pada pengertian tersebut, kalo siswa nilainya jelek, berarti dia belum paham suatu materi yang menyebabkan dia kurang bisa mengerjakan soal ulangan. Betul? Kemudian, diadakanlah ulangan remedial bagi siswa yang nilainya kurang sebagai kesempatan kedua mereka untuk mempelajari ulang materi yang ada.

Yang menjadi masalah sekarang adalah ketika NILAI yang tercantum di kertas ulangan menjadi lebih dipandang daripada ilmunya. Ya, terutama oleh si murid dan orang tuanya. Seolah – olah tujuan diadakannya ulangan oleh guru itu hanya sebagai sumber nilai yang tentunya akan mempengaruhi kelulusan. Bukan sebagai bahan evaluasi apakah si murid mengerti materi itu atau tidak. Justru karena munculnya pandangan seperti itu hampir di semua kalangan murid, hal itulah yang memancing masalah. Kok bisa?

Sekarang begini, ada dua orang murid yaitu A dan B. Murid A adalah seorang murid yang benar – benar menyadari dan mengetahui tujuan ulangan yang sebenarnya yaitu untuk menguji kepahamannya, sehingga dia mempersiapkan diri dengan memahami materi sebaik – baiknya. Berbeda dengan murid B, dia mengikuti ulangan dengan tujuan supaya mendapat NILAI BAGUS. So, dia tidak peduli bagaimana pun caranya supaya dia bisa mendapatkan nilai bagus. Entah menyontek, membawa kunci jawaban, mencari bocoran soal apapun…… Yang penting tidak ketahuan dan nilainya bagus. Toh, nanti ketika nilainya bagus, si guru dan teman – temannya justru akan memuji dia.

Terlihat kan bedanya? Ya, perbedaan orientasi turut membedakan juga usaha siswa. Memang, saya yakin masih ada murid di luar sana, khususnya di Indonesia yg bertipe seperti murid A. Tapi, berapa banyak? Tapi, apakah hal itu 100% faktor si murid? Belum tentu.

Walaupun, memang tujuan bersekolah bukan untuk sekedar nilai tapi juga untuk menuntut ilmu, dan ilmunya pun tidak hanya mata pelajaran akademik, ada juga nilai – nilai yang lebih penting, seperti kejujuran, usaha dsb. Tapi, sistem pendidikan yang ada disekolah lah yang MEMBUAT siswa melakukan hal sebaliknya. Ya itu tadi, sekedar mencari NILAI. Ujung – ujungnya mencari bocoran soal, membawa contekan dsb.

Sekali lagi, kok bisa? YA BISA DONG.

Bisa kita lihat sendiri lah di sistem pendidikan yang ada, semuanya di ukur pakai nilai. Dari PR sampai kelulusan, sampai penerimaan ke jenjang pendidikan yang lebih tiggi. Semua diukur pakai nilai. Ya, bukan salah siswa memang kalau ujung – ujungnya mereka lebih score-oriented.

Bahkan sampai UN, patokannya kan cuma nilai diatas 4 aja udah dinyatakan lulus. Cara mencapainya emang jadi patokan? ENGGAK saudara – saudara….. Memang ada di surat kelulusan, “saudara A dinyatakan lulus dengan nilai bla bla bla….. dengan cara menyontek / membawa kunci jawaban / jujur“. Dari orang tua sampai mentri pendidikan gaakan peduli cara mencapai nilai segitu, dengan catatan asal nggak ketauan.

Itulah yang gue kira menjadi alasan utama kita sesama murid terkadang lebih pentingin nilai daripada ilmunya. Karena sistemnya yang terkesan lebih mengukur nilai daripada ilmunya.

Kalau begitu, ini salah siapa? Pencipta sekolah? Mentri pendidikan? Gurunya? Orang tua? atau muridnya? Hmmm…… Menjawab hal ini saya teringat quote dari guru Fisika saya.

“Seharusnya orang berpendidikan itu bersolusi ketika menghadapi masalah, bukannya mengeluh dan saling menyalahkan”

Yap, sebagai orang – orang yang masih berkaitan dengan dunia pendidikan, marilah kita tidak saling menyalahkan. Karena gaakan menyelesaikan masalah. kita lakukan saja kewajiban kita masing – masing dengan benar dan sebaik – baiknya.

Salam.
-Black Jag-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *