Sampai Kapan Begini Terus?

Posted on Posted in Opini

Buat temen – temen yang masih kuliah, atau baru masuk kuliah (cieee…. mahasiswa baru cieee), atau akan masuk kuliah (mohon maaf, yang udah kerja nggak saya sebut ya hehehe….)

Pernah nggak kalian berpikir buat apa kamu kuliah? Apakah sekedar biar punya ijazah S1 trus bisa punya kerjaan mapan kemudian bisa hidup enak? Apakah ingin mengabdikan diri secara profesional di bidang yang teman – teman sukai? Atau……. Sekedar ngikutin perintah orang tua?

Entah apapun tujuan temen – temen untuk berkuliah, pasti jawabannya ada di benak teman – teman sendiri, begitu pula dengan saya. Karena, kalau kuliah nggak ada tujuannya ya buat apa? Ada ribuan orang diluar sana yang mungkin mendambakan posisi kita sebagai mahasiswa seperti saat ini.

Mungkin kita adalah bagian dari jutaan mahasiswa di Indonesia yang saat ini menikmati bangku kuliah, yang tahun ini jumlah mahasiswa di Indonesia bertambah sebanyak 148.066 orang dari jalur SBMPTN dan 101.906 orang dari jalur SNMPTN, belum termasuk seleksi jalur mandiri. Dengan sedemikian banyaknya mahasiswa di Indonesia ini, kembali ke pertanyaan saya.

Buat apa kita kuliah?

collegeb

Sebelum saya melanjutkan, saya akan banyak bercerita dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa Informatika / Ilmu Komputer. Mungkin akan ada ketidaksesuaian bahasan menurut latar belakang ilmu teman – teman pembaca atau hal – hal yang sulit dimengerti.

Belakangan ini saya membaca sebuah artikel, yang membuat saya menyadari betapa ketinggalannya teknologi yang diajarkan oleh dosen saya di kampus dibandingkan dengan teknologi yang saat ini sedang digandrungi oleh kaum profesional IT. Hal ini membuat saya berpikir, bila katanya kampus adalah tempat untuk mempersiapkan orang – orang untuk memasuki dunia profesi, apa yang membedakan orang yang mengenyam bangku kuliah dengan orang yang belajar secara otodidak? Bahkan, mungkin saja orang yang mengenyam bangku kuliah “ketinggalan” secara teknologi dan pengalaman oleh kaum otodidak.

Hal ini bedasarkan kenyataan seperti yang saya alami. Misalnya saja, di kampus saya selama 3 semester awal masih saja banyak disibukkan dengan pemrograman C / C++ yang (maaf) hasilnya cuma hitam putih di konsol dan tidak ada penerapannya untuk membuat aplikasi yang ready-to-use. Sedangkan, baru di semester 4 diajarkan pemrograman web yang setidaknya bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan ada wujudnya, walaupun secara teknologi jauh ketinggalan dari trend teknologi terkini yang banyak digunakan.

Berbeda dengan beberapa kawan yang memang adalah seorang otodidak, bahkan sejak SMA sudah memproduksi game sendiri dan memiliki pengetahuan yang lumayan mengenai dunia IT untuk anak seusianya. Sekarang? Secara pengalaman dan ilmu, saya yakin dia lebih banyak dibandingkan dengan sebagian besar teman – teman seangkatan saya.

Mungkin, akan banyak dari teman – teman saya sesama mahasiswa IT yang akan memprotes atau tidak setuju dengan pernyataan saya sebelumnya. Namun, saya tahu apa yang akan mereka katakan.

“Anak kuliah tahu basic konsep dan logikanya, jadi bisa lebih berkembang secara profesional”

“Karena dari awal mereka harus tahu konsep dulu, baru bikin produk”

Well, I am agree with that. Tapi, sampai kapan dan tahap apa kita harus terus mempelajari “konsep dan logika dasar”.

Kapan kita akan saling memotivasi untuk nggak sekedar teori dan konsep doang, tapi mengenai penerapan langsung ilmu tersebut?

Seberapa sering dosen kita ngasih kuliah mengenai wawasan tentang kondisi sebenarnya di dunia kerja yang nggak akan dijelasin di buku referensi manapun?

Kembali ke pertanyaan awal, buat apa kita kuliah?

Dunia bergerak dengan cepat, masalah – masalah di masyarakat bertambah rumit, teknologi berkembang dengan cepat. Sedangkan, di bangku kuliah masih seringnya berkutat dengan teori – teori dan asumsi yang bersifat textbook.

Memang, pasti akan ada suatu pemikiran yang idealis bahwa,

Harusnya mahasiswa dong yang aktif mengembangkan ilmunya, jangan cuma nurut dari materi yang dikasih dosen aja.

Ya, oke kalo ada ngomong gitu. Tapi, masalahnya,

Berapa banyak sih mahasiswa Indonesia yang masuk kuliah sesuai jurusan atau minat impiannya?

Berapa banyak mahasiswa Indonesia yang berhasrat dengan ilmu jurusannya?

Berapa banyak mahasiswa Indonesia yang masuk jurusannya saat ini dengan bukan karena “Yang penting kuliah”, “Gatau ini jurusan apa”, “oh, gue kira jurusan ini belajarnya begini”, “gue maunya ke jurusan A, tapi kecemplung di B”, “bodo amat, yang penting di kampus X, bodo amat jurusannya apa” ?

Kalo orang tidak berhasrat dengan jurusannya, saya pikir hampir tidak mungkin dia akan mendalami ilmu di jurusannya. Yang penting kuliah, absen gak kebanyakan, transkrip keluar, DONE.

Jika memang kuliah mempersiapkan orang untuk memasuki dunia profesional,

Apakah kampus yang harus menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dunia profesional?

Atau dunia profesional yang harus menyesuaikan dengan kurikulum kampus?

Tapi dua hal yang saya tahu, perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat tidak bisa dibendung dan menyusun kurikulum bukan perkara mudah karena belajar pada hakikatnya adalah step-by-step.

Karena, jika kita semua hanya ngikut dari apa yang dikasih dosen saja, apa yang akan membuat kita menonjol di dunia kerja nanti? Kita sesama mahasiswa saja ilmunya sama persis, belum lagi ilmu yang kita punya belum tentu bisa sesuai dengan requirement dunia profesional.

Lantas, kita punya value apa sebagai seorang lulusan dunia perkuliahan?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *