Renungan Malam Minggu #4 : Masih Mau Sekolah di Indonesia?

Posted on Posted in Opini

Selamat datang dan selamat malam minggu bagi kalian yang merayakan πŸ™‚

Di malam minggu ini, gue mau sedikit bercerita mengenai sesuatu yang……..well, bagi yang udah baca semua posting di blog gue ini, pasti kalian tau hal apa yang sering gue bicarakan. Tepat sekali, PENDIDIKAN, khususnya di Indonesia.

Mungkin, agak aneh kalo serial malam minggu ini gue gunakan untuk berbicara hal – hal yang cukup berat…….. Soalnya gue lagi gaada mood buat nulis santai juga sih, apa boleh buat.

Jadi begini, di malam minggu gue yang sepi seperti biasanya ini gue memanfaatkan kesempatan yang ada dan koneksi internet gue yang lagi cepet malam ini untuk Googling soal sistem pendidikan di Finlandia (the best one by the way) dan tentang PISA. Well…. Buat yang gatau, PISA itu adalah suatu program yang dibikin oleh OECD (Organisation For Economic Co-operation and Development). Tujuannya adalah untuk mengukur kemampuan siswa di SELURUH dunia di bidang matematika, bahasa dan sains (IPA) *kalo gasalah.

Dimulai dengan gue mengetik, “Finland’s education system” di Google, kemudian gue klik search. Hasilnya, gue pun gabisa ngomong apa – apa. Cuma satu kata yang terlintas, “WOW”. Karena, memang sistem pendidikannya dan cara ngajarnya pun keren banget.

Mungkin lu bisa buka link berikut ini. (webnya dalam bahasa inggris ya hehehehe….)

Gue akan sedikit merangkum apa yang udah gue baca disitu. Menurut apa yang udah gue baca, sistem pendidikan mereka itu hanya berlandaskan pada satu hal. Yaitu MINAT. Yes, MINAT. (yang jelas bukan pemaksaan kaya di Indonesia sih *peace pak anies πŸ™‚ ) Intinya adalah bagaimana supaya siswa berminat terhadap pelajaran.

“Hah? Gitu doang? Kaya anak TK dong, emang bisa fokus belajar karena minat doang?”

Jelas bisa dong. Sekarang gini, gue ambil contoh seorang siswa yang suka sama klub Chelsea (juara Premier League musim ini btw hahahaha….) ato suka sama Real Madrid (finalis UCL musim ini heheheheh….). Gue tantang mereka nyebutin semua kejuaraan dan pemain hebat dan legendaris dari klub tersebut. Bisa nggak? Gue yakin BISA, kenapa? Apakah hal – hal tersebut diajarin di sekolah mereka? NGGAK. Karena mereka MINAT, jadi mereka mempelajari itu dengan sukarela dan senang hati (Gue mengartikan belajar bukan berarti terpaku sama buku, karena definisi belajar itu sendiri adalah masukin dan menguasai hal baru ke otak lu), karena bisa jadi mereka hanya baca dari internet ato tau dari temennya yang sesama fans juga. Jadi intinya, supaya murid mau belajar ya bikin mereka minat sama pelajara, bukan paksa mereka untuk ngapalin.

(Sedikit curhat, gue punya guru biologi yang secara nggak langsung maksa murid untuk ngapal, akibatnya, nilai biologi gue satu angkatan pun hancur – hancuran. Anehnya, udah begitu pun dia nggak sadar. Ketika kita protes ketika disuruh ngapal melulu, dia berdalih “Ah, segitu aja udah protes, saya dulu ngapalin segitu gampang aja”. Karena kalimat dan hal itulah, gue dari nggak suka biologi, makin gasuka lagi dan nggak suka ama nih guru satu. Pertama, karena dia maksa untuk ngapal, kedua, dia nggak bisa melihat perbedaan diantara muridnya.)

YA, logika berpikir sistem pendidikan di Finlandia menurut yang gue tangkep bedasarkan artikel yang gue baca hanya sesederhana itu. Dan satu poin lagi yang menurut gue keren dan penting adalah, jam pelajarannya sedikit (tersedikit di dunia btw) dan gaada PR (murid di indonesia pasti suka ini)……… Bentar, ini kayanya dua. Ya, dan pelajarannya pun nggak terinci seperti di Indonesia seperti matematika, kimia, geografi dsb. Disana pun mereka nggak menyebut pelajaran sebagai pelajaran (dalam bahasa inggris “subject”, bahasa Indonesia terkadang membuat semuanya menjadi susah), tetapi topik. Kalo lu dah baca artikel di atas, contohnya topik tentang kafe. Disitu mereka bisa belajar soal akuntansi, bahasa, skill berbicara dan menulis. Menurut gue ini keren, kenapa? Karena disamping lu jelas belajar tentang sesuatu bedasrkan kegunaannya, lu bisa belajar tentang aplikasinya dalam kehidupan, ga cuma dalam awang – awang doang kaya di Indonesia. Contoh simpel aja, pelajaran bahasa Indonesia pasti kita pernah suruh ngapalin angkatan sastra di Indonesia. Buat apa? (buat gue pribadi sih gaada gunanya, menuh – menuhin otak doang). Daripada ngapalin gituan, kenapa nggak ada di kurikulum pelajaran tentang membuat CV yang baik, ato mungkin tentang public speaking. Yang bakal jelas kegunaannya nanti.

Sistem pengajarannya pun beda dari sistem tradisional. Kalo sistem tradisional sperti sekolah kita sekarang, duduk di bangku per baris dan kolom menghadap papan tulis dan guru, menunggu penjelasan dan nunggu ditanya (biasanya berharap nggak ditanya sih). Kalo disana, tiap kelas itu dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, terus mereka dikasih soal ato masalah buat diselesaikan. Jadi mereka udah dibiasakan untuk bekerja dalam kelompok (sperti halnya orang bekerja kan?) dan tentunya melatih skill komunikasi dan berpikir mereka. Dalam beberapa kesempatan pun, pada saat penyampaian materi, dalam satu kelas ada 2 – 3 guru dalam kelas (coba aja di Indonesia ada 2 guru dalam kelas yang ngajar saat pelajaran, jiper semua muridnya). Jadi 1 guru didepan dan nyampain materi, sedangkan guru sisanya berkeliling dan ngebantu anak – anak yang ‘rada lambat’ dalam nerimanya, jadi peran guru disini menurut gue bener – bener sebagai pendidik, karena yang mereka lakukan sesuai dengan job description mereka, yaitu bikin murid paham. Kalo disini mah beda banget ya, murid mau ngertinya lama apa cepet juga gaada bedanya, murid ngerti apa nggak ya terserah hahahahhaha…..

Bahkan, OECD dan banyak negara – negara maju pun mengakui bahwa sistem pendidikan di Finlandia ini bagus dan layak dicontoh dan diterapkan.Β  Ketika gue membaca tentang OECD ini, gue pun teringat dengan program mereka yang terkenal, yaitu PISA itu tadi. Lantas, gue teringat, tahun 2012 lalu, murid Indonesia yang diambil random pernah ikut tes PISA ini. Dan hasilnya pun MEMPRIHATINKAN. Yak, bener, MEMPRIHATINKAN. Karena peringkat Indonesia nomor 2 dari bawah, nomor 64 dari 65 negara (FYI, #65 : Peru). Dan sejak taun 2000, peringkat Indonesia cenderung turun dan selalu ada di posisi bawah, paling jauh juga nomor 5 dari bawah.

“Loh, kenapa memprihatinkan? Masih ada yang lebih bawah kok”

Emang sih, tapi bedasarkan surveynya si OECD, benua Asia adalah benua dengan kualitas pendidikan terbaik. Sedangkan, kita di Indonesia malah peringkat nomor 2 dari bawah πŸ™ . Beda dengan Vietnam, dulu memang dia jelek, tapi makin kini katanyaaa makin bagus, mendekati Jepang sih katanya. Miris yah…….

“Tapi ada tuh anak Indonesia yang bisa olimpiade fisika, matematika tembus internasional, berarti hasil PISA ngaco dong?”

Jadi begini, tes olimpiade dan tes PISA itu berbeda isinya. Kalo soal olimpiade, pengetahuan yang diujikan hanya sebatas pada matematis saja (baca: tes hitungan), begitu juga dengan UN. Sedangkan, kalo di tes PISA lebih kepada kemampuan literasi matematika, bukan sekedar kemampuan berhitung. Literasi matematika dalam PISA terfokus pada kemampuan siswa dalam memahami masalah, mengintepretasikannya, lalu membuat solusinya. Penilaian yang digunakan adalah fokus kepada masalah-masalah dalam kehidupan nyata, diluar dari situasi atau masalah yang sering dibahas di kelas. Siswa harus mampu menentukan cara apa yang relevan, proses apa saja yang harus dilalui untuk dapat mengantarkannya kepada solusi yang mungkin dari permasalahan tersebut, dan bagaimana cara menggambarkan kebenaran dan kegunaan dari jawaban atau solusi yang diperoleh. (well, guru matematika gue pun pernah berkata bahwa belajar matematika tak lebih dari belajar berlogika dan menyelesaikan masalah, jadi bukannya ngapalin rumus dan nyelesein hitungan).

Inilah yang mendasari si Muhammad Nuh membuat Kurikulum 2013, katanya biar sesuai sama standar PISA, dan beliau yang terhormat ini pun memasukkan soal PISA ke soal UN 2014 tanpa pemberitahuan dulu, wew hahahahahha…… Sayangnya, K13 ini hanya dibikin dalam waktu yang terlalu singkat dan langsung diterapkan tanpa ada kaji ulang dan evaluasi serta persiapan dulu buat guru dan muridnya dan penyesuaian mindset institut pendidikan. Yah pak, lu kata pendidikan mainan? Lu kata murid Indonesia kelinci percobaan.

Surfing gue pun berlanjut, gue pun membuka google lagi, dan searching dengan keyword “PISA Indonesia”. Hasilnya, wow…… Bener – bener membuka mata gue akan keterpurukan sistem pendidikan di negara ini. (If you don’t believe me, you can try it yourself).

Menurut hasil survey PISA yang bisa dibaca di sini atau sini

Masalah utama yang diangkat adalah pada GURU sebagai pendidik. Menurut PISA, hal penting yang dititikberatkan pada sistem pendidikan yang baik, khusunya di Asia adalah kualitas gurunya melalui seleksi dan pelatihan yang tepat dan baik, pemberian fasilitas yang baik dan layak sebagai seorang professional.

Seperti yang gue sebutkan tadi bahwa pendidikan yang baik, lebih mengutamakan pada kemampuan bernalar daripada kemampuan penguasaan materi. Dan lagi – lagi, seperti yang udah gue bilang, dan hasil survey PISA juga, guru – guru di Indonesia hanya menitikberatkan pada penguasaan materi tanpa matengin konsep nalarnya. Gue punya contoh menarik disini. Suatu kali gue dalam perjalanan berangkat sekolah di kereta, gue satu kereta sama seorang guru SD yang ngajar di SD sekolah gue sekarang, dia sama anaknya yang kayanya sih antara kelas 2-3 SD. Gue sedikit menguping pembicaraan mereka (tepatnya karena si ibu ngomongnya rame banget dan mereka duduk persis di sebelah gue). Si anak lagi belajar matematika perkalian

Sii ibunya nanya, “Dek, 2×2 berapa?”
Anaknya jawab, “4”
“Kalo 3×2?”
“6”
“4×2”
“…..”

Disitu si anak keliatan bingung dan nggak jawab. Si ibu pun ngomong

“8 dek, kok kamu ga apal?”
*si anak diem aja*
“Diapalin lagi ya, 4×2 itu 8. Udah diapalin aja”

Kenapa contoh ini menarik buat gue? Pertama, karena si ibu itu guru SD dan anaknya 4×2 aja gatau muahahahahahhaha……. canda :-p. Karena, dari kata – kata yang diucapkan si ibu itu, gue hampir yakin 70% si ibu itu HANYA nyuruh anaknya ngapal tanpa kasih tau konsep dasar perkalian. Misalnya, “4×2 itu sama aja angka 4 ada 2 terus dijumlahin, delapan deh……”. Ya gue gatau ini bener apa nggak, ini hanya hasil analisis gue doang.

Itu hanya contoh simpel dari seorang guru SD, contoh lainnya di kehidupan gue sehari – hari pun banyak, ada guru Fisika gue di sekolah yang cuma kasih rumus dan ngajar ganiat dan HAMPIR SEMUA guru di tempat les gue sekarang (gaperlu gue sebut gue les dimana, kan? Hahhahahahaha)

Itu hanya contoh kecil dari satu siswa di Indonesia dan hanya di separuh kecil Kota Bogor doang, bagaimana dengan seluruh Indonesia? Pasti masih banyak….banget…..yang kaya gini.

Semua pihak dari bidang pendidikan pun pasti setuju bahwa kunci utama keberhasilan suatu pendidikan adalah pada gurunya. Muridnya pinter tapi gurunya ga berkualitas ya worthless, muridnya bego tapi gurunya berkualitas (I am not saying a smart teacher), it could bring a big differences. Bahkan, bedasarkan apa yang gue baca di internet, kebanyakan di negara – negara maju, atau tepatnya di negara yang pendidikannya maju, guru itu udah diperlakukan selayaknya seorang professional, bukan sebagai pegawai. Kalo profesionalnya busana ya desainer, profesionalnya ekonomi ya ekonom, professionalnya pendidikan? GURU. Menurut gue pribadi, satu hal yang kurang dari sistem pendidikan kita soal guru adalah keterbatasan kita, orang tua dan kepala sekolah dalam mengevaluasi si guru ini. Guru yang emang berkualitas ya dipertahankan, atau mungkin dapet fasilitas lebih. naik jabatan dsb. Guru yang emang kurang ya…………ya dilatih lagi, atau mungkin dicari lagi dari luar yang lebih baik. Mungkin takut bakal terjadi penilaian subjektif. Kita kan negara demokrasi, bikin aja forum terbuka murid-ortu-guru-kepala sekolah. Jadi disamping bisa saling feedback, yang jelas ada transparansi.

Disamping soal gurunya, PISA juga menyoroti hal lain, karena bedasarkan hasil tes, murid dari sekolah dengan guru yang diakui memenuhi standar pun gabisa mendapat hasil test yang lebih baik dibandingkan temen – temennya. Berarti, masalah nggak semata – mata ada pada gurunya. Apa itu? MATERINYA.

Ada apa dengan materi? Yang menarik perhatian adalah soal menghilangkan materi Bahasa Inggris, Komputer dan IPA dari kurikulum untuk anak SD. Yap….. Mereka pun ngomong bahwa hal ini adalah aneh. Soalnya, di masa sekarang ini teknologi berkembang pesat, semua hal jadi computer based, dengan teknologi yang semakin berkembang, berarti udah pasti Sains juga semakin berkembang. Teknologi berkembang pesat dan globalisasi pun makin cepet, berarti penggunaan Bahasa Inggris pun akan semakin luas. TAPI, 3 hal penting itu malah diilangin, dengan alasan meningkatkan nasionalisme dan patriotisme serta nilai nilai moral dan agama siswa. Situ mau nasionalisme kita berkembang? Ya GAUSAH KORUPSI. Situ mau patriotisme kita meningkat? Perhatiin nasib rakyat, gausah korupsi mulu. Situ mau moral dan agama kita berkembang? YA ILANGIN DISKRIMINASI RAS DAN AGAMA, bukannya dicekokin di sekolah.

Tapi menariknya, jika diukur tingkat kebahagiaan murid Indonesia di sekolah, Indonesia menduduki peringkat 1.

Happiness_vs_Maths_scores_PISA_2012

Liat aja grafiknya………

Bahkan, seperti yang gue kutip dari http://indonesiaetc.com/indonesian-kids-dont-know-how-stupid-they-are/

“It does seem that in general, less competent kids feel happier in school. And there’s nothing wrong with being happy. But it worries me that Indonesian children do not even realise how badly the school system is failing them. Though the overwhelming majority have not, by the age of 15, acquired even the basic skills needed to function in modern society, they think they’re all set for the future. Some 95% report that they have learned things that have prepared them for their future jobs, and almost three quarters think that school has prepared them adequately for adult life. Fewer than one in ten think that school has been a waste of time.

Which makes me wonder what kind of future Indonesia will have.”

Gue sedikit sedih dan prihatin membaca kalimat ini. Entah gimana orang luar menilai bahwa sistem pendidikan kita udah kuno dan terpuruk, tetapi pemerintah kita masih aja ngambilin duit budget buat pendidikan, penyelenggaraannya masih belum bagus, infrastruktur belum rata, biaya pendidikan mahal, materi – materi yang ‘nggak terlalu dibutuhin’ dicekokin,Β  bahkan muridnya sendiri dinilai bahagia di sekolah (bahagia bukan berarti siswa pinter dan menguasai materi), iyalah, liat aja di berita, habis UN pesta – pesta sama coret – coret ga jelas, malah bikin pesta bikini, tawuran. Yang lebih parah, korban meninggal gara – gara tawuran malah dihormatin pake bunga macem pahlawan -___- .

Jadi……..

Masih mau sekolah di Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *