Renungan Malam Minggu #3 : UNITY

Posted on Posted in Opini

Setelah 2 post sebelumnya gue menulis hal – hal yang bersifat dan bernada serius, rasanya nggak lengkap kalau gue belom melanjutkan serial Renungan Malam Minggu gue ini. Nggak pa pa lah, yang penting isinya ringan dan (semoga) menghibur.

Seperti yang udah pernah gue omongin di Renungan Malam Minggu #2 : Friends , bahwa gue memiliki teman se-grup yang menemani hari – hari gue di SMA (yang sekarang sudah berakhir). Kalau kalian udah baca dan masih inget, gue pernah bilang bahwa gue memiliki sebuah……….band……..walaupun nggak bisa dikatakan band juga sih, karena beberapa alasan yang nanti akan gue ceritakan. Dan pada kesempatan yang sedikit bagus ini, gue akan bercerita tentang band gue yang satu ini.

Sesuai judul postingan ini, nama band gue udah bisa kalian tebak, yaitu UNITY. Pemberian nama ini nggak sembarangan, tapi kebetulan aja. Beneran…… Jadi waktu itu kebetulan ada game Assassin’s Creed yang baru akan dirilis dalam waktu dekat waktu itu, namanya Assassins Creed : UNITY . Yang latar belakang sejarahnya di Revolusi Prancis (ada Napoleon Bonaparte juga lhooo……), dengan tokoh utama namanya Arno Charles Dorian yang ayahnya dibunuh oleh assassin berkhianat namanya Shay Cormac……………bentar, kenapa gue jadi nyeritain tentang gamenya? Tapi game ini emang keren sih, walaupun ngga terlalu bagus (?)

Lanjut…..

Jadi begitu, disamping deket dengan waktu perilisan game Assassins Creed, ada makna lebih dalam daripada itu. Dalam bahasa Inggris, Unity berarti persatuan, sehingga band kita mengandung unsur persatuan, terutama dalam perbedaan. Ini terbukti dari berbagai macam hal yang ada di band gue ini….

Pertama, terdiri dari banyak pemain alat musik, dan alat musiknya beragam, nggak satu jenis doang. Ada drum, ada bass, ada gitaris, ada vokalis juga. Hebatnya, semua alat musik itu digunakan untuk memainkan satu lagu yang sama disaat bersamaan juga….. Makanya kita disebut band persatuan (?)

Kedua, anggota kita campuran dari 2 jurusan di sekolah gue, yaitu IPA dan IPS. Walaupun unsur ini cuma kental di formasi awal doang. Di formasi awal, IPS ada Sean (Gitaris) dan Albert (Manager, dibaca : logistik), dari IPA ada gue sendiri (Bassist), Nugi (Vokalis) dan Hizkia (Drummer). Kemudian setelah Sean hengkang, dan ada bassis baru yaitu si Andrew serta kita narik Joshua buat ngebantu vokal, kita mengalami perubahan posisi. Nugi (Gitaris & Vokalis), Joshua (Vokalis), Andrew (Bassist), gue (Keyboardis), Hizkia (Drummer) dan Albert (still the same hahahahha……). Yah walaupun unsur perbedaannya jadi berkurang, karena cuma Albert yang dari IPS. But, It’s okay lah ya hahahahhaa…..

Ketiga, anggota band kita ini terdiri dari berbagai macam agama dan ras. Misalnya dari etnis Cina ada Hizkia dan Albert, dari Jawa tulen ada gue, dari Jawa – Menado – Arab ada si Nugi, dan si Sean sendiri dari Bali. Kemudian, ada si Joshua dan Andrew sebagai tambahan squat etnis Cina.

DAN……… Yang membuat gue bangga sama band ini secara pribadi……

Personil band kita terdiri dari berbagai macam agama. Gue dan Nugi beragama Katolik, Albert beragama Buddha, Sean beragama Islam, Joshu, Hizkia dan Andrew beragama Kristen. Yah, entah kenapa gue merasa temen – temen gue ini lebih bisa menciptakan kerukunan antar agama dibanding sama masyarakat umum :-p.

Itu tentang filosofi (halah) dan sejarah namanya…. Kemudian tentang sejarah bandnya itu sendiri.

Awalnya……..gue gatau awal band ini ada gimana dan personil awalnya siapa, soalnya gue baru gabung belakangan. Yang gue tau udah ada dari awal cuma si Sean, Hizkia, Nugi sama Albert, sisanya gatau. Kemudian, gue mendengar tentang mereka ini membentuk sebuah band. Saat itu gue bisa bermain keyboard (sekarang juga masih bisa sih) TAPI gue belum pernah bermain di dalam sebuah grup, gue selalu bermain dan belajar bermain sebagai pengiring koor dan pemain solo. Maka, dilandaskan keinginan untuk memperluas kemampuan dan pengetahuan, gue menawarkan diri untuk bergabung di band tersebut. Dan ternyata DITERIMA.

Tapi…….

Gue juga kurang jelas waktu itu ada apa, yang jelas tiba – tiba tidak ada yang berposisi sebagai seorang bassist. Gara  – gara itu, terjadilah hal teraneh yang terjadi di sejarah gue belajar musik. Baru latian pertama, gue langsung ditunjuk sebagai seorang bassist. Padahal……gue belom pernah megang gitar bass…..apalagi main bass…….main gitar juga masih culun. Yasudahlah, terjadilah gue menjadi seorang bassis.

Target kita waktu itu bermain di saat pentas seni 17-an di sekolah gue. Alhasil, kita latihan serabutan, dikit – dikit latian tapi selalu ga maksimal. Namun, karena hasrat kami untuk bisa bermain dan tampil di panggung, dihadapan teman – teman dan guru satu sekolah, kami pun nekat daftar dan ikut audisi. Hasilnya pun SUNGGUH dapat DIDUGA, kita NGGAK LOLOS, hahahahahah….. Disamping karena saingan kami kelas berat semua, sistem penjurian yang tidak objektif , kami memang kurang matang dalam persiapannya.

Semenjak saat itu, band kita menjadi luntang – lantung dan vakuum dalam waktu yang cukup lama. Hal itu memuncak pada hengkangnya Sean dari band ini. Sejak itu, band ini terluntang – lantung semakin parah. Gue pun menyadari, sebuah band gaada gitaris tuh susah juga ya. Gue dan Nugi pun beberapa kali sering mencoba mengisi posisi ini, tapi hasilnya tidak maksimal.

Sekian lama waktu berselang, dan band gue ini vakuum. Kemudian, di akhir semester satu, kami semua berada di ujung stress. Karena diumumkan secara DADAKAN, kurang dari 2 minggu sebelum hari H, bahwa sekolah gue akan mengikuti UAS bersama se-Bogor dengan materi ujian. Bayangin aja coy……. 2 minggu nyicil materi satu taun? Kepala sekolah gue emang suka bercanda ga mikir…………….

Di akhir UAS, kami semua berada di ambang stress. Gue, Nugi dan Hizkia sepakat untuk kembali bermain band. Mulailah kami melakukan beberapa hal, kita ngajak Joshua bergabung untuk membantu sebagai vokalis, Nugi merambah menjadi seorang gitaris dan vokalis dan akhirnya………….cita cita gue tercapai. GUE MENJADI SEORANG KEYBOARDIS muahahahahhahahahahahahha………….. Hal ini dikarenakan Nugi gitarnya belum terlalu lancar, apalagi sambil nyanyi, sehingga gue bisa bantu ngasih fill-in. Juga karena gue bisa ngasih suara bass pake keyboard. Mulai saat inilah gue merasa berperan di dalam band ini, selain sebagai penambah patungan bayar studio.

Sejak saat itu, kita sering main bareng. Mungkin karena kita sering main bareng, ‘bahasa’ kita dalam bermusik pun saling nyambung, jadinya kita pun merasa nyaman dengan formasi ini. Formasi yang masih bertahan sampai saat ini adalah

Joshua – Vokalis
Nugi – Gitaris & Vokalis
Jagad – Keyboardis
Hizkia – Drummer

Disini, yang sering berperan sebagai penyumbang lagu adalah si Nugi….. Entah lagu jadul maupun Sheila on 7 (seringnya sih SO 7 ini). Joshua dan gue pun kadang – kadang turut menyumbangkan lagu buat dimainin. Sumbangan terbesar kita (Gue dan Joshu) adalah ketika kita mengusulkan untuk memainkan lagu Wind of Change dari Scorpion. Lagu ini selalu kita mainkan tiap kali kita ngeband bareng. Dan sumbangan terbesar si Nugi adalah lagu Jauh nya si Gebby (betul ga sih judulnya ini). Yang katanya pacarnya mati terus dia bikin lagu ini. Karena kebetulan lagu ini memiliki chord dan struktur lagu yang sama dengan lagu Canon in D, kami berempat pun mencampur dua buah lagu yang serupa tapi berbeda ini. Sehingga lahirlah karya kami satu – satunya, yang kami sebut sebagai “Lagu Abadi”.

Emang kenapa disebut lagu abadi sih??

Oke…… Abadi itu artinya nggak mati – mati, gampangnya nggak ada selesainya. Nah, kita sebut karya kita ini lagu abadi karena lagu ini nggak ada selesainya. Iya, betulan…… Selama si Nugi dan Joshu masih kuat nyanyi dan tangan gue dan hizkia belum pegel, serta selama batu akik masih ngetrend, lagu ini kita mainin terus.  Walaupun harus gue akuin, struktur dari 2 lagu yang disangkutkan pun menjadi kacau. Entah bagaimana terkadang intro bisa muncul di tengah – tengah lagu, terkadang sewaktu gue kira lagunya udah memasuki ending…….si duo vokalis ini tiba – tiba nyanyi bagian awal sampai reff lagi…….entahlah, mungkin karena lagu ini nadanya memang enak (paling gampang dimainin juga sih ).

Jadi, kami pun sering menggunakan lagu ini sebagai lagu pamungkas ketika lampu merah di studio sudah menyala, menandakan waktu sewa kami sudah hampir habis atau bisa dianggap sisa 1 lagu lagi yang boleh dimainkan. Karena itulah, kami menggunakan lagu ini ibarat ketika lampu di dada Ultra Man udah nyala dan berbunyi *tinung tinung tinung*, dengan sisa – sisa tenaga, kami akan kuasai studio dan alat musik ini, abang – abang operator pun tak berkuasa menghentikan kami MUAHAHAHHAHAHAHA………….  Kecuali kalo dia matiin saklar listriknya, ya udah, emang harus selesai berarti.

Karena itulah, gue pribadi nggak mengganggap band gue ini adalah sebuah band secara harafiah, yang mungkin latihannya diseriusin, genrenya tertentu, peranggotaan ketat, punya tujuan jelas dsb. Gue lebih mengganggap band ini sebagai……yah, just another form of our friendship. Just for having fun, cuma buat penghilang jenuh dan kebosanan, bahasa mainstreamnya adalah untuk mempererat pertemanan. Mungkin ada yang berpikir kalo band kaya gini cuma buang – buang duit dan waktu. Mungkin emang bener sih……. But, this is something worth fighting for.

Kami Saat Ini Kiri ke Kanan : Joshu, Gue, Hizkia, Nugi
Kami Saat Ini
Kiri ke Kanan : Joshu, Gue, Hizkia, Nugi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *