5 Hal Ini Yang Kamu Alami Jika Menjadi Seorang Asisten Dosen

Posted on Posted in Opini

asisten dosen

Jika teman – teman adalah (atau pernah) menjadi seorang mahasiswa, tentu sering mendengar istilah asisten dosen. Iya, sosok mahasiswa yang selalu siap sedia membantu kita dalam permasalahan yang berkaitan materi perkuliahan.

 

Katanya sih, asisten dosen adalah mahasiswa yang secara akademis sudah terjamin kemampuannya. Sebab, sang dosen saja sudah percaya kepada orang ini untuk membantunya mengajar.

 

(ibarat sama mertua udah direstuin untuk jadi menantu hehe…)

 

Apalagi, menjadi asisten dosen mendapat honor. Lumayan kan untuk tambah – tambah uang jajan?

 

Sejak awal masuk kuliah saya sudah menargetkan bahwa saya akan menjadi seorang asisten dosen. Selain karena pada dasarnya saya senang berbagi, saya ingin mendapatkan sebuah pengalaman menjadi seorang pengajar sungguhan dan menghasilkan uang sendiri.

 

Puji Tuhan, cita – cita kecil saya ini berhasil tercapai di tahun kedua kuliah saya. Sudah 1 tahun saya menjadi seorang asisten dosen di 2 mata kuliah yang berbeda. Tentu saja, banyak hal baru yang saya alami dan rasakan.

 

Pengalaman menarik saya banyak muncul ketika saya mengisi materi di kelas. Karena, saya harus menjelaskan materi di depan kelas layaknya seorang dosen.

 

Secara tidak langsung, kita pun belajar bagaimana rasanya menjadi guru (yang terkadang tidak diperhatikan) di depan kelas. Yang membuat kita akan lebih menghargai profesi seorang pengajar itu sendiri.

 

Apa aja sih yang bisa kita pelajari dengan menjadi seorang asisten dosen?

 

1. Menjadi Lebih Bertanggung Jawab

asisten dosen bertanggung jawab

Berkutat dalam hal mata kuliah tentu adalah tanggung jawab utama seorang asisten dosen. Dari membantu anak – anak yang kurang paham, menjelaskan materi, menyiapkan soal praktikum, mengoreksi tugas sampai memberi nilai.

 

Tentu saja hal tersebut menuntut tanggung jawab dan tidak bisa dilakukan sembarangan apalagi karena faktor subjektif semata. Karena pertanggung jawabannya langsung ke dosen pengampu mata kuliah dan kita mengurus nilai kuliah banyak mahasiswa. Jika salah – salah, tentu nilai dan nama kita di kalangan dosen menjadi taruhannya.

 

Apalagi ketika panggilan tugas sebagai asisten dosen bertabrakan dengan kuliah kita. Kita dituntut untuk bisa mengatur waktu dan menyelesaikan keduanya.

 

Karena nggak mungkin dong, kalian ninggalin tugas kalian sebagai seorang mahasiswa. Padahal udah susah – susah dibayarin orang tua. Di sisi lain, kita nggak bisa gitu saja meninggalkan teman – teman yang meminta bantuan ke kita.

 

Karena, pasti kita pernah merasakan bagaimana rasanya stuck dalam perkuliahan dan mengharap bantuan dari seorang asisten dosen.

 

Kalau dulu kita dibantu oleh seorang asisten dosen, masa sekarang kita tega ninggalin mereka kesusahan sendirian?

 

2. How to Deal With Problems (Peacefully)

asisten dosen dalam menyelesaikan masalah

Saya akui saya bukanlah seseorang yang dapat dijadikan panutan dalam menyelesaikan masalah, apalagi dalam menyelesaikan masalah secara baik – baik. Karena pembawaan saya yang mudah meledak.

 

Tetapi, menjadi seorang asisten dosen membuat saya sadar bahwa saya harus menjadi panutan anak ajar kita yang notabene adalah adik kelas kita. Apalagi posisi kita sebagai seorang kakak kelas yang seharusnya memberi panutan.

 

Selama saya menjadi asisten dosen, ada 2 masalah yang sering muncul:

 

Pertama, anakanak yang ribut sendiri dan tidak memperhatikan. Anak – anak seperti ini biasanya akan langsung ditegur dan disuruh keluar kelas oleh guru – guru di jaman kita sekolah. Saya pun pada awalnya tergoda ingin mengikuti cara ini.

 

Namun, jika kita menyuruh anak tersebut untuk keluar, bukankah kita hanya akan mencabut hak anak tersebut untuk memperoleh ilmu dan anak tersebut belum tentu akan merasa rugi?

 

Lalu, caranya? Saya lebih memilih cara yang lebih mendidik. Biasanya, anak – anak yang seperti ini akan saya panggil ke depan kelas, lalu menyuruhnya mengerjakan suatu soal. Apabila tidak bisa, maka akan saya tunggu sampai dia selesai atau menyerah. Biarkan dirinya sendiri yang menasihati bahwa dia harus memperhatikan.

 

Kalau dia bisa? Ya sudah, berarti memang dia sudah mengerti kan? As simple as that.

 

Masalah yang kedua adalah si tukang nyontek. Saya pribadi memang membenci tukang nyontek. Tetapi, menjadi asisten dosen mengajarkan saya cara menyelesaikan masalah ini dengan mudah dan sederhana.

 

Saya panggil anak – anak yang saya curigai saling menyontek. Lalu saya suruh kerjakan soal yang sama di saat yang bersamaan di tempat terpisah. Siapapun yang bisa mengerjakan dengan benar, maka dialah yang “lolos”.

 

Yang tidak bisa? Saya tunggu dia menyelesaikan soal tersebut sampai selesai atau sampai dia mengaku.

 

“Orang yang menggunakan pendekatan fisik untuk menyelesaikan masalah, menunjukan dia kehilangan akal untuk menyelesaikan secara intelektual”

 

– Pandji Pragiwaksono

 

3. Menjadi Lebih Peka

asisten dosen peka

Menjadi seorang asisten dosen mengajarkan saya mengenai arti keberagaman.

 

Mahasiswa di kampus saya terdiri dari berbagai jenis manusia dengan tipe kepribadiannya masing – masing, latar belakangnya masing – masing dan tingkat intelektualnya masing – masing.

 

Dengan latar belakangnya yang berbeda – beda, kita tidak bisa serta merta menganggap bahwa kemampuan mereka untuk memahami suatu materi adalah sama semua. Tentu ada yang lebih cepat memahami, ada juga yang memahaminya lebih lama.

 

Adalah tanggung jawab seorang asisten dosen untuk membantu mereka semua memahami suatu materi.

 

Tapi masalahnya, tidak semua yang tidak mengerti mau bertanya.

 

Disinilah kita harus peka untuk mengenali raut – raut wajah peserta kelas. Menjadi seorang asisten dosen akan memberkahi kita dengan kemampuan tambahan untuk mengenali apakah seorang anak paham atau tidak.

 

Karena, bila dia tidak mengerti dan tidak bertanya, dia akan kehilangan haknya untuk mendapatkan suatu materi di saat itu.

 

4. Belajar Berbicara Dengan Jelas dan Efektif

asisten dosen berbicara

Kamu pengen menjadi asisten dosen tapi masih susah berbicara di depan umum?

 

Nggak usah khawatir, justru dengan menjadi asisten dosen kamu akan belajar cara berbicara dengan bahasa yang jelas dan efektif.

 

Iya, dengan menjadi asisten dosen tentunya kamu dituntut untuk sering menjelaskan suatu materi ke peserta kelasmu sampai mereka paham. Nah, menjadi asisten dosen inilah kesempatanmu untuk sering – sering berlatih menjelaskan dan presentasi dengan bahasa yang jelas dan efektif.

 

Nggak mau kan peserta kelasmu malah tidur gara – gara penjelesan yang ribet dan susah dipahami?

 

Nah, ketika kamu sudah menjelaskan dan masih ada yang belum mengerti, itulah kesempatanmu untuk mengevaluasi caramu menjelaskan suatu materi. Bisa jadi suaramu yang terlalu pelan, atau kalimatmu yang tidak terstruktur, atau kamu kebanyakan “ehhh…. ehhh… ehhh”.

 

Nggak masalah, dijamin deh, dengan menjadi asisten dosen, kemampuanmu untuk menjelaskan dan presentasi akan semakin meningkat.

 

5. Mempunyai Kredibilitas Lebih

asisten dosen terkualifikasi

Pengalaman menjadi asisten dosen bisa menambah nilai CV kita.

 

Karena, seperti yang sudah saya bilang, menjadi seorang asisten dosen berarti kemampuan kita dalam suatu mata kuliah sudah terkualifikasi. Ditambah, kita dianggap sudah memiliki pengalaman bekerja dan membagikan ilmu kepada orang lain.

 

Singkat kata,

Menjadi seorang asisten dosen adalah pekerjaan sampingan yang susah – susah gampang. Gampang karena tugas kita hanya sebatas membantu dosen pengajar mata kuliah. Seperti memberi nilai, mengentri nilai, memberikan tutorial tambahan. Jam kerjanya pun fleksibel dan tidak mengganggu waktu kuliah. Sekaligus memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan peserta kelas yang terdiri dari berbagai tipe dan jenis manusia.

 

Susahnya karena kita harus bertanggung jawab penuh karena sang dosen sudah percaya kepada kita sebagai asistennya dan banyak peserta kelas yang membutuhkan bantuan kita untuk lulus satu mata kuliah. Belum lagi ketika tugas kuliah kita yang menumpuk bertabrakan dengan tanggung jawab kita sebagai asisten dosen.

 

Kemudian, banyak dari kalangan teman – teman dan keluarga yang sering bertanya,

 

“Berapa sih gaji seorang asisten dosen?”

 

Hmm soal besar atau kecil itu relatif, saya tidak akan membeberkannya disini. Silahkan kontak saya secara lebih personal untuk membicarakannya 😊.

 

Tetapi satu yang saya bisa katakan, berapapun gajinya, tak ada yang mampu mengalahkan rasa bangga ketika anak didik kita memahami penjelasan kita dan mampu menyelesaikan mata kuliah tersebut dengan baik.

 

Jadi, jangan ragu deh jadi asisten dosen kalau kamu punya kelebihan di bidang akademis dan kamu mau ilmu yang kamu punya menjadi bermanfaat.

 

Kamu ada cerita menarik sewaktu menjadi seorang asisten dosen? Atau mau curhat soal asisten dosenmu sekarang?

 

Ceritain di kolom komentar yaaaa….!!!! 😊

 

[mc4wp_form id=”1931″]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *