Nonton Juru Bicara World Tour

Posted on Posted in Review

Kemarin tanggal 29 Oktober 2016 bisa jadi hari yang cukup membuat gue bahagia, karena gue berkesempatan nonton langsung stand up comedy nya Pandji Pragiwaksono. Karena Surabaya menjadi kota ke 22 dari 24 kota di 5 benua dalam rangkaian Juru Bicara World Tour di seluruh dunia.

Pandji udah 4 kali ngadain pertunjukan tur stand up comedy spesial (pertunjukan stand up selama 1 jam lebih). Yang pertama adalah Bhinneka Tunggal Tawa, kemudian Merdeka Dalam Bercanda, dilanjut dengan Mesakke Bangsaku (nah, di Mesakke Bangsaku inilah Bang Pandji mulai merambah ke tingkat World Tour, dan menjadi komika Indonesia pertama yang melakukan world tour) kemudian yang terakhir yaitu Juru Bicara.

Nah, dari ke – 4 show spesial tersebut, bisa dibilang gue benar – benar mengikuti dari mulai Merdeka Dalam Bercanda. Karena, menurut gue pribadi disini Bang Pandji mulai menemukan materi dan formula yang cocok untuk melakukan sebuah show spesial. Gue mengikutinya dari nonton lewat YouTube, karena gue memiliki keterbatasan finansial pada waktu itu hehehe :). Hal yang membuat gue suka dari Bang Pandji ini adalah di setiap stand up nya dia, selalu ada materi – materi yang dia selipkan, jadi nggak cuma sekedar lucu tapi juga nambah wawasan. Terlebih, topik – topik yang dia angkat kebanyakan adalah permasalahan yang ada di Indonesia sendiri, secara nggak langsung dia mengajak kita untuk membuka mata dan peka terhadap hal – hal yang seringkali kita anggap sepele.

Ambil contoh, di tur Mesakke Bangsaku (dari judulnya aja udah ketahuan bahwa dia mau mengangkat masalah – masalah yang ada di Indonesia yang nggak kita sadari), Pandji mengungkapkan keresahannya terhadap kurangnya fasilias untuk kaum difabel, padahal mana pernah kita benar – benar peduli bahwa di fasilitas publik jarang ada fasilitas khusus bagi kaum difabel. Bahkan Pandji juga mengangkat mengenai topik yang menjadi keresahan banyak orang, yaitu pendidikan. Untuk lengkapnya silahkan cari sendiri di internet :).

Singkatnya, itulah yang membuat gue menyenangi genre nya Bang Pandji. Selalu berhasil membuat gue berkata “O iya ya…..”. Keliatan banget dari materi – materi yang dia bawakan bahwa dia benar – benar peka dan mau mengajak kita menyadari bahwa ada hal – hal yang salah di Indonesia.

Makanya, sejak awal liburan semester 2 gue udah bermimpi untuk bisa nonton shownya Pandji secara live. Pada waktu itu, gue belum tau kalo Surabaya bakal masuk dalam rangkaian kota Juru Bicara World Tour. Ketika gue kepoin instagramnya Pandji, gue sempet ga percaya kota Surabaya masuk dalam rangkaian. Gue mikir saat itu juga “Fix, gue harus beli dan nonton”.

H-2 bulan shownya di Surabaya (tepatnya bulan September) penjualan tiket sudah dimulai, gue tanpa pikir panjang langsung berburu tiketnya. Nggak tanggung – tanggung, gue langsung membeli yang kelas platinum (untungnya didukung dan malah disuruh nyokap). Akhirnya, setelah ketidaksabaran dan penantian yang panjang, hari yang ditunggu pun tiba. Tanggal 29 Oktober 2016, jam 18.00 di Gedung Wanita Candra Kencana Surabaya. Berbekal perut yang sudah makan, motor Honda Revo hitam dan kwitansi tiket di dompet, pukul 15.30 gue meluncur ke tempat pertunjukan.

Karena gue beli tiket platinum, gue bisa duduk di barisan depan, tepatnya baris nomor 3 dari depan. Posisi yang sempurna menurut gue, karena bisa ngeliat Bang Pandji dari deket. Jam 18.00 lebih sedikit pertunjukan dimulai. Diawali oleh MC yaitu Dono Pradono yang mengajak penonton untuk ‘warming up’ dengan melontarkan joke – joke ringan mengenai orang – orang Surabaya dan sekitarnya, yang benar – benar pas untuk ‘memanaskan’ perut, terutama jokenya soal Arema dan mesin bajak sawah tipe matic. Kemudian, dilanjut dengan seorang opener lokal dari Ngawi yang namanya Sofyan dari Universitas Baru Negri…. Yang kental dengan logat Ngawi nya, melontarkan joke – joke mengenai keadaan kampung halamannya di Ngawi yang diliputi hutan dan sebuah Indomaret. Setelah itu opener selanjutnya yaitu Indra Frimawan yang adalah alumni SUCI season berapa saya lupa yang khas dengan bit – bitnya receh tapi entah kenapa mengundang tawa. Terutama soal tilang di toko kamera (sampai saat ini gue masih mikir, kayanya Indra gak nyiapin materi tapi langsung improv diatas panggung). Akhirnya, yang ditunggu – tunggu muncul, yaitu Pandji Pragiwaksono.

img_20161029_220615
sumber : dokumentasi pribadi

Dengan balutan kemeja batik coklat lengan panjang dan sepatu pantofel yang sangat kinclong, Pandji memasuki panggung dan menyapa 1300 di gedung tersebut penonton yang amat riuh memberikan tepuk tangan. Pandji mengawali dengan bitnya mengenai kekesalannya terhadap materi garing Indra Frimawan (memang garing dan nyebelin) dan bit tentang kebiasaan masyarakat Shanghai. Sebenarnya saya sudah 2 kali mendengar bit ini, yaitu waktu dia ada di acara Hitam Putih dan bintang tamu di Stand Up Comedy Academy, tapi entah kenapa gue tetap ketawa juga.

Ciri khas Pandji ketika mengadakan spesial pun tetap ada kali ini, materinya mengenai keresahan – keresahan mengenai masalah – masalah yang ada di Indonesia, namun sepertinya karena ini adalah rangkaian world tour, level materinya sedikit lebih mengglobal. Pandji membawakan materi mulai dari soal rating TV dan censorship, potensi kekayaan alam Indonesia yang terabaikan, HAM bahkan sampai soal sensitif yaitu radikalisme lewat joke – jokenya yang mengena dan pastinya materi dan pesan bisa tersampaikan. Beneran deh Bang Pandji, gak rugi gue bayar 125.000 buat nonton spesial lu kali ini.

Ada hal yang lucu di tengah – tengah pertunjukan, yaitu mic nya Pandji sempet mati. Sebenernya itu terjadi karena Pandji yang terlalu semangat beratraksi dan sampai memukul – mukul mic nya, tiba – tiba mic nya ga ngeluarin suara. Tapi karena memang tensi ketawanya lagi tinggi, malah diketawain dan ditepuk tanganin sama penonton dan Pandji malah bercanda. Harus gue akuin Pandji lagi on fire banget malem itu dan penontonnya memang pecah banget. Bahkan Pandji sampai ngomong ini adalah kota paling pecah seumur hidup dia ngadain world tour.

img_20161029_215606
sumber : dokumentasi pribadi

Tak terasa 2 jam 57 menit berlalu dan stand up spesial tersebut berakhir dengan tepuk tangan meriah dari penonton. Ketika Bang Pandji menutup shownya malam itu dengan kata – kata “Selamat malam semuanya, gue Pandji”. Entah kenapa gue sedikit mencelos dan ngomong “Yah, udahan nih?”. Ketika gue berdiri untuk memberikan standing ovation, gak kerasa kaki gue kesemutan, pantat dan punggung gue pegel. Bener – bener sebuah malam yang gak akan gue lupakan. Ketawanya dapet, materinya dapet, ketemu Bang Pandjinya dapet. Sejujurnya, ini baru kedua kalinya gue nonton stand up secara langsung, karena biasanya gue nonton di YouTube. FYI, komika pertama yang gue tonton langsung adalah Mongol waktu acara pensi SMA.

Acara malam itu ditutup dengan sesi foto dan tanda tangan merchandise oleh Bang Pandji sendiri. Ketika mengantri (yang cukup lama karena bener – bener rame), gue kagum dan salut sama Bang Pandji. Gue bisa melihat mukanya yang basah oleh keringet dan ketauan banget capeknya, tapi dia menyapa dan ngajak foto satu persatu penontonnya. Berarti bener yang gue denger selama ini, bahwa dia bener – bener mau totalitas untuk pengagum karyanya. Mungkin ini terdengar lebay, but seriously, if you see him that night, you can see how much he love his fans. Bayangin aja, 1300 orang satu gedung, diajak ngobrol satu – satu dengan ketawa – ketawa dan berfoto satu – satu, bahkan panitia aja sampai nyuruh penonton untuk cepet – cepet. Akhirnya giliran gue tiba, mungkin gue yang norak karena baru pertama kali salaman dan ketemu sama artis (emang Pandji artis? Hahahhaa)…. Gue sempet bingung mau ngomong apa. Akhirnya, gue menemukan kata – kata untuk diucapkan.

“Makasih Bang Pandji atas pencerahannya” kata gue.
“Wih, sama sama. Let’s go” kata Bang Pandji.

img_20161029_230625_1
Bersama Bang Pandji di penghujung Juru Bicara World Tour Surabaya

Akhirnya, gue bisa bertemu dengan orang yang membuat gue menyenangi kesenian stand up comedy, orang yang bisa membuat gue lebih peka dan menyadari bahwa ada sesuatu yang salah di negara kita dan dengan tangan kita sendirilah kita harus menyelesaikannya.

Makasih Bang Pandji mau mencerdaskan kita masyarakat Indonesia dan terutama pengagum karya lu. Terima kasih udah mau menjadi Juru Bicara bagi pihak – pihak yang tidak mampu bersuara. I’m looking forward for your next special.

“Makasih ya, selamat istirahat” kata Bang Pandji ke gue untuk menutup malam itu.

Keinginan kita untuk berhasil, harus lebih besar dibanding ketakutan kita untuk gagal

– Pandji Pragiwaksono Wongsoyudan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *