Ngaret : Sebuah Budaya Yang Dibanggakan

Posted on Posted in Opini

Kalau gue ditanya, apa sih budaya dari orang Indonesia yang paling sering dibanggakan dan dirasakan? Gue bakal jawab, Budaya Ngaret. Semakin kesini pun gue semakin sering melihat fenomena ini.

Dulu, ketika gue masih tinggal di Depok dan belum merantau ke Surabaya untuk kuliah seperti sekarang, gue cukup aktif di gereja untuk melayani sebagai seorang organis. Nggak cuma mengiringi misa saja, gue pun cukup aktif dalam kegiatan – kegaiatan eventual atau kegiatan lainnya, semisal pelatihan organis baru, latihan tugas ke gereja luar dan latihan untuk misa besar semisal Natal atau Paskah.

Liburan semester 2 kemarin ini, gue berkesempatan untuk mempresentasikan mengenai kegiatan organis di gereja gue ke calon penerima Sakramen Krisma.

13912685_1365661056794684_71607686413168610_n
Betapa mempesonanya presentasi saya bagi anak kecil

Dari kegiatan saya sebagai organis itu, saya lebih banyak berinteraksi dengan anak usia SD sampai SMP kelas 1 atau 2, jadi yah bisa dibilang banyak berinteraksi dengan anak – anak kecil (tapi anak jaman sekarang lebih cepat dewasa dari seharusnya….huft). Saya memperhatikan ada suatu hal yang menarik pada mereka (disamping mudah ribut sendiri) dan hampir selalu sama di setiap kegiatan yang melibatkan mereka.

Yaitu, mereka selalu datang IN TIME. Yeah…. Not ON TIME, but IN TIME. (You should look for the difference between them yourself). Ya, mereka selalu datang lebih cepat dari kita para pembinanya. Bahkan, gue yang selalu dateng awal keduluan sama mereka. Dan, mereka kebanyakan dianter oleh orang tua atau pengasuhnya, walaupun terkadang hanya diantar sampai tempat lalu ditinggal. Tapi, ada juga yang dateng sendiri karena memang rumahnya deket di situ.

Itu satu (mungkin satu – satunya) hal yang membuat gue senang jika ada acara yang pesertanya anak kecil. Jarang sekali mereka ngaret, dan mereka selalu datang lebih cepat. And I am happy to see it. Sebagai seorang pembina dan pelaksana acara, gue merasa dihargai dengan kepolosan mereka. Pernah gue memulai satu percakapan dengan mereka.

“Cepet banget kamu dateng dek. Sekarang masih jam 9.30 lho… Acaranya kan jam 10.00”

“Kata kakak kan jam 10… Ya biar nanti langsung mulai aja, gausah nungguin aku lagi. Kan kasian kakak”

Wow…. Pertama kalinya saya terkesan dengan perkataan anak kecil.

Hal ini membuat saya tersadar. Walaupun saya nggak mengerti ilmu psikologi (kalau ada temen yang ngerti, tolong koreksi saya), saya punya pemikiran bahwa setiap orang pada dasarnya memiliki kesadaran untuk disiplin dan menghargai orang lain. Buktinya? Anak kecil.

“Tapi, kan mereka paling disiplin karena disuruh ortu nya dateng cepet”

Justru itulah maksud saya, bahkan orang tua nya pun tahu bahwa disiplin dan menghargai orang lain adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan, maka mereka ngajarin begitu ke anaknya. Adakah orang tua yang ngajarin anaknya yang masih kecil untuk datang terlambat saja? Karena toh acaranya pasti ngaret, karena toh satu anak telat acaranya gaakan batal.

Tapi entah kenapa, semakin dewasa peserta suatu acara, yang saya perhatikan justru yang ngaret semakin banyak. Itu masih menjadi misteri untuk saya. Asumsi saya, karena budaya ngaret sudah makin populer, dan orang – orang ingin menjadi kekinian dan sok efisien dengan dateng ngaret, mungkin mereka merasa keren dengan dateng telat, I don’t know. Bahkan mereka lebih bangga ketika dateng ngaret daripada dateng lebih cepat. Karena mereka berpikir toh acaranya pasti ngaret.

Maka, seperti yang selalu saya katakan bahwa ‘Budaya Ngaret” di Indonesia itu NGGAK BERGUNA dan GAPERLU dibanggakan. Karena, apa bagusnya? Berapa waktu produktif yang kebuang? Kalo alasannya ‘budaya’, toh perbudakan dan pemerkosaan juga pernah jadi budaya. Apa itu bagus? Enggak juga.

Tapi, bukan berarti telat itu sejelek itu. Kalo alasannya karena hujan, atau ada acara lain yang ikut ngaret, atau ada hal mendesak lainnya, ya gapapa. Buat apa ngorbanin hal yang lebih penting? Tapi kalo alasannya males atau sejenis yang saya sebutin di atas ya…..Screw you.

Tetapi, baru – baru ini saya merasa senang lagi ketika mengadakan acara. Kenapa? Karena pesertanya datang IN TIME.

Jadi, Senin – Kamis minggu lalu ada OK2BK (saya lupa kepanjangannya apaan) yaitu ospek jurusan di kampus gue. Disini angkatan gue berperan sebagai OC (Organizing Comitee), dan sekitar 11 anak terpilih menjadi Korlap (Koordinator Lapangan) termasuk gue huahahahaha…. (bangga dikit lah ya). Hari Senin, Selasa gaada yang istimewa soal kedatangan. Di hari Rabu, maba (mahasiswa baru, yaitu angkatan 2016) dateng 5 menit lebih awal. Ini gue mulai sedikit bangga buat mereka, karena bisa dateng cepat, karena angkatan gue dlu malah telat 5 menit, wkwkwk….. ampas lah.

Nah, besoknya, terjadi hal yang amat paradoks. Mereka diminta dateng jam 7.00 pagi. TAPI, jam 6.45 mereka udah dateng. CAN YOU IMAGINE? Mereka dateng jam 6.45 untuk menghadiri OSPEK KAMPUS yang biasanya dicap ‘TIDAK MENYENANGKAN’. Buat saya itu adalah prestasi yang kami selaku kakak tingkat dan mereka sendiri harus banggakan atas komitmen itu.

Angkatan gue cuma seperempat yang hadir di waktu yang dibutuhkan. Kita perlu rapiin lapangan, briefing, koordinasi dsb. TAPI…. Jumlah kami dr angkatan kami amat teramat sedikit dan gue pun MALU. Gue bahkan sampe marah – marah dan ngomel di grup angkatan. (bagi kalian yang baca mohon renungkan perbuatan kalian hari itu). Ketika kami dilonggarkan untuk bisa dateng lebih siang, justru kita gabisa kasih contoh. Dan bahkan ada yang mengomentari balik sikap saya yang mungkin bagi sebagian orang ‘lebay’ dan ‘berlebihan’.

Maafkan saya bila menulis ini dengan sedikit emosi, wel

Maka, dari cerita saya ini, saya memiliki sebuah teori.

Tingkat kengaretan suatu acara berbanding lurus dengan umur peserta. Semakin kecil rata – rata umur peserta maka kemungkinan ngaret makin kecil, semakin besar rata – rata umur peserta semakin besar kemungkinan ngaret suatu acara.

Benarkah ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *