Ketika Lumba – Lumba Belajar Memanjat Pohon

Posted on Posted in Opini

Mungkin ada diantara kalian yang membaca judul tulisan ini lalu berharap isinya adalah dongeng fabel semacam Ganteng Ganteng Serigala (?) atau Manusia Harimau. Sayangnya, anda salah hahahahahha :). Tapi, apakah isinya lebih menarik? Bisa ya bisa nggak. Check it out ~

Gue yakin kita semua tau hewan yang namanya ikan lumba – lumba, kan? Itu loh yang suka ada di seaworld terus dilatih buat atraksi dan suka nyiumin penonton yang beruntung, biasanya sih yang beruntung cewek – cewek bening dan anak kecil yang duduk di barisan depan. Entah itu akal – akalan si pelatihnya atau hoki si lumba – lumba. Oke, balik ke intinya lagi.

Kenapa lumba – lumba bisa dilatih untuk berartraksi di seaworld? Karena, menurut banyak penelitian yang udah dilakukan, lumba – lumba termasuk salah satu mamalia tercerdas yang pernah ada, bahkan dia bisa dilatih untuk berhitung di beberapa seaworld. Maklum, otaknya saja memiliki korteks serebral 40% lebih besar daripada manusia. Korteks serebral adalah wilayah otak yang berfungsi untuk komunikasi sosial, informasi pengolahan abstrak, pemecahan masalah, dan kecerdasan dalam menerima hal-hal yang baru. Termasuk kemampuannya untuk berkomunikasi dengan gelombang suara, biasanya waktu dia bunyi “iiiiik….iiiiiik….ikkkk” (anggep aja mirip). Dengan kemampuannya itu, tentu banyak hal yang bisa dilakukan lumba – lumba dibandingkan dengan sesama ikan lainnya. (katanya dia bisa berkomunikasi dengan manusia lhoooo.)

Selain itu sistem alamiah yang melengkapi tubuhnya juga sangat kompleks. Sehingga, banyak teknologi yang terinspirasi dari lumba-lumba. Salah satu contoh adalah kulit lumba-lumba yang mampu memperkecil gesekan dengan air, sehingga lumba-lumba dapat berenang dengan sedikit hambatan air. Hal ini yang digunakan para perenang untuk merancang baju renang yang mirip kulit lumba-lumba.

Lumba-lumba memiliki juga sebuah sistem yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima rangsang yang dinamakan sistem sonar, sistem ini dapat menghindari benda-benda yang ada di depan lumba-lumba, sehingga terhindar dari benturan. Teknologi ini kemudian diterapkan dalam pembuatan radar kapal selam.

Nah, dari sekian banyak kelebihan dan kemampuan yang dimiliki oleh lumba – lumba. Mari kita berandai andai, coba kita bawa satu lumba lumba ke tengah hutan, ke daerah yang nggak ada airnya. Disitu kita taruh juga seekor simpanse. Kemudian kita lakukan sebuah tes bagi keduanya untuk memanjat dan mengambil sebuah makanan yang diletakkan di atas sebuah pohon. Apa yang anda bayangkan mengenai hasilnya?

Yak, tentu si simpanse berhasil memanjat dan mengambil makanan tersebut dengan mudahnya. Sementara si lumba – lumba? Mungkin untuk bernafas saja sulit, walaupun dia memiliki paru – paru tapi tetap saja habitat aslinya di air, kan? Apalagi memanjat sebatang pohon, mungkin sebuah kiamat untuknya *lebay.

Kemudian, kita lakukan hal yang sama di sebuah lautan. Seekor simpanse dan lumba – lumba kita tes untuk adu cepat berenang untuk mengambil makanan yang diletakkan agak jauh, sehingga untuk mencapainya harus berenang. Walaupun simpanse bisa berenang, saya 100% yakin si lumba – lumba lah yang menang.

Dari kedua tes tersebut, manakah hewan yang lebih pintar? dan mana yang lebih bodoh?

Apakah si lumba – lumba? Tentu tidak, anda sudah baca kelebihan lumba – lumba yang sudah saya paparkan sebelumnya. Masih bisakah anda berpendapat demikian?

Apakah si simpanse? Anda yakin? Simpanse  dikenal sebagai hewan yang cerdas. Simpanse dapat membuat alat-alat yang dibutuhkan untuk bertahan hidup dan mencari makan, tentunya dengan cara mereka sendiri. Hewan ini juga dapat dengan cepat beradaptasi dan melakukan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan manusia. Dalam sebuah penelitian Universitas Kyoto, simpanse diajarkan untuk menghitung dari 1 sampai 9 dan kemudian diadu melawan manusia, yang kita anggap sudah sangat terbiasa dengan angka. Setiap subyek diberi posisi nomor yang tersebar di layar komputer. Jumlah tersebut kemudian ditutup dan diminta untuk mengidentifikasi posisi nomor yang tersembunyi. Simpanse ini menjawab semua nomor itu dengan mudah dan cepat. Simpanse dalam penelitian ini secara konsisten dapat mengungguli para peserta manusia. Kesimpulannya adalah bahwa simpanse lebih cepat beradaptasi untuk memecahkan masalah numerik.

Yang luar biasanya lagi, kinerja mereka tidak menurun walaupun waktu menghafal menurun, yang berarti simpanse menghafal semua nomor dengan cepat dan instan. Kerja memori yang dimiliki simpanse dikenal sebagai  “memori fotografi”. Sementara itu manusia menunjukan penurunan kinerja dengan penurunan waktu menghafal  “semakin pendek durasinya, semakin buruk akurasi mereka.
Lantas, Siapa yang lebih pintar? jawabannya TIDAK ADA. Yang lebih bodoh? APALAGI.
Anda lihat saja, mereka memiliki kemampuan yang khas dan unik milik mereka masing – masing sesuai dengan lingkungan hidup mereka.
Yang ingin saya sampaikan adalah……..sama halnya dengan manusia.
Ya, saya yakin anda yakin pernah mendengar 8 Tipe Kecerdasan Manusia oleh Howard Gardner. Melalui teori tersebut, Om Howard menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan yang UNIK dan KHAS masing masing. Entah visual, kinestetik dsb….(saya nggak apal). Dan tipe kecerdasan tsb tidak bisa disamakan dan dibandingkan satu dengan yang lain.
Masalahnya, ada pada sistem pendidikan yang ada saat ini. Bisa kita lihat sistem pendidikan yang dianut sekolah pada umumnya ‘menyamaratakan’ semua murid yang katanya supaya ada ‘keadilan’ dan tak ada pembedaan. Walaupun di beberapa sekolah, termasuk sekolah saya sering diadakan tes minat & bakat untuk menentukan tipe kecerdasan murid. Tapi saya yakin hampir 90% hanya sekedar formalitas saja.
Saya mempunyai seorang teman, saya baru kenal baik dengannya sejak satu tahun yang lalu dikelas 11. Sebut saja namanya A. Dari sudut pandang saya, dapat saya katakan saya iri dengannya. Kenapa? I think he is the most talented person I’ve ever met. Si A ini bisa melakukan hampir semua hal yang bisa saya bayangkan. Entah olahraga apapun dan seni apapun, dari body building sampai atletik, dari menggambar sampai drama. Pokoknya hampir semuanya. Pemikiran – pemikirannya pun sungguh kreatif, tak jarang dia sering jadi sasaran utama kalo ada kerja kelompok :).
Tapi, ya seperti sebuah quote klasik, Nobody is perfect. Dia memang tak terlalu bagus di bidang akademik, sering remedial memang. Mungkin memang bakatnya bukanlah di bidang ini. Tapi, satu yang saya suka adalah kemauannya untuk mengatasi kekurangganya itu dengan kelebihan2 yang dia punya.
Dari sini saya berpikir, sistem pendidikan yang ada sekarang ini tidak terlalu bagus. Ya karena itu tadi, penyamarataan murid. Katakanlah teman saya si A ini bergabung dengan sesama murid yang berkemampuan lebih di bidang eksak, tentu nilainya akan terlihat jelek bila dibandingkan dengan sesamanya. Sehingga, bukan tak mungkin bila ada kalangan tertentu yang mengecap dia sebagai murid yang (*maaf) bodoh. Padahal, kita tahu tak demikian, memang kecerdasan si A ini tidak disitu.
Tapi, coba kita ambil satu anak yang bertalenta di bidang akademik SAJA, dan kita bandingkan kemampuannya dengan kemampuan si A di bidang – bidang dimana si A memiliki bakatnya. Saya yakin anak itu akan KALAH TELAK. Kenapa? Kecerdasan si anak tidak pada bidang2 tersebut, sedangkan si A memiliki kecerdasan di bidang – bidang tersebut.
Itulah yang gue kira salah satu kekurangan terbesar sistem pendidikan yang ada saat ini. Semua anak disamaratakan tanpa memandang perbedaan yang ada dengan alasan supaya adil. Tapi, apakah semua yang sama itu pasti adil? Bagi yang berkemampuan kurang dicap bodoh, terlebih DIBUAT percaya bahwa mereka bodoh. Padahal tidak demikian kan?
Lalu, bagaimana? Apa nggak usah sekolah aja daripada dicap bodoh? Tentu tidak. Bila kita tak mempunyai kecerdasan di bidang yang diperlukan, nggak ada salahnya kita mencoba belajar dan minta tolong, kan?
Pesan terakhir yang ingin gue sampaikan adalah….
A man is like a moon, if he doesn’t shine himself, he has another way to.
Salam
– Black Jag –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *