Jagad si Anak Sombong dan Egois

Posted on Posted in Opini

Yap, sesuai judulnya, saya akan bercerita sedikit tentang diri saya sendiri karena mayoritas isi blog ini adalah kritikan dan pemikiran saya yang aneh – aneh aja.

Oke. “Jagad si Anak Sombong dan Egois”.

Mungkin bagi kalian yang pernah satu sekolah, satu kelas dan mungkin satu tim kerja kelompok saya….. Pernah punya pemikiran ini heuhehehe. Darimana saya tau? Dari testimoni orang – orang yang pernah ‘memuji’ langsung ke saya atau ngomong ke temen – temen deket saya. Hehehhe…. Saya sekalian minta maaf ya kalau kalian pernah merasakan hal demikian.

“Loh, emangnya lu ngapain aja?”

Hmmm….. Banyak sih. Tapi intinya, kebanyakan yang saya lakukan adalah mengambil alih semua kerjaan buat kerja kelompok sendiri karena…..yah, karena di Indonesia semua jadi karet, dan karet itu molor, seperti celana dalam dan kutang yang udah usang dan sering dicuci dengan cara dikucek pake kekuatan 10 tangan (?).

Jadi ya, seperti itu. Bukannya saya mau serba cepat atau nggak percaya sama orang lain. NGGAK gitu. Saya percaya sama mereka, buktinya, saya masukin nama mereka di daftar nama, hehehe…. Dan saya yakin kerjain tugas dengan bantuan banyak kepala hasilnya akan lebih bagus. 10 kepala = 10 pemikiran = minimal 10 ide = 10 sudut pandang masalah. Saya cuma gasuka sesuatu yang molor – molor dan harusnya bisa selesai lebih cepet, dan ketika bisa selesai cepat kenapa mesti diundur – undur? Itu prinsip saya.

Jadi ketika temen – temen saya bilang, “Waduh, lupa sori ya…..”, “Wah, sori tugas gue tiba – tiba numpuk”, “Wah, sori pacar gue ngajak jalan.” dll…. Ya oke, that’s your life, I’ve nothing to do about it. Saya ngerti bahwa nggak semua orang hidupnya gabut kaya saya, nggak semua orang hidupnya habis di atas keyboard (buat komputer ato alat musik) dan layar monitor. Dan ketika kerjaan “diundur”, jadi gabisa sesuai target awal lagi kan. Disitu lah terkadang muncul panggilan hati untuk menyelesaikannya. Jadi kalau mau dibilang halusnya, “oke, gue tau lu ada halangan. Sini gue yang kerjain aja gapapa, asal lu jangan ganggu gugat”. Kurang lebih seperti itu lah.

Namun, sayangnya, terkadang dan seringnya ide teman saya yang berhalangan itu lebih bagus dari ide saya. Sehingga, ketika saya ambil alih, hasilnya gabisa sebagus seharusnya walaupun selesainya bisa sesuai target. Disinilah terkadang ungkapan itu kembali muncul dan saya terkadang merasa bersalah.

Nggak cuma soal itu, saya juga sering memberontak ke kesepakatan bersama, biasanya ini saya lakukan cuma ketika ada kesepakatan yang nggak sesuai komitmen awal.

Contohnya gini…..

Waktu saya kelas 12 SMA kemarin, dari pelajaran Sejarah yang gurunya Bu Esti, ngasih tugas bikin mind map di kertas A3 tentang….. tentang apa ya? saya lupa… Kalo gasalah tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia, ya sejenis itulah. Tugas itu dikasih waktu sekitar 2 minggu. Kebetulan, di akhir 2 minggu itu ada Try Out UN. Nah, kalang kabut lah temen – temen saya waktu itu. Sedangkan saya, dari awal sudah ngerjain, H-1 waktu pengumpulan saya cuma tinggal cetak aja. NAH. Temen – temen saya dari satu kelas ini, kelas XII IPA 6, sepakat untuk TIDAK mengumpulkan di waktu yang udah ditentukan dengan alasan besok TO makanya belum pada bikin dan berencana membujuk guru sejarah waktu itu. Makanya, mereka melarang seorang pun untuk ngumpul supaya guru itu nggak punya alasan untuk marahin kita.

Sedangkan reaksi saya? BIG HELL NO !!!! Saya udah kerjain dari awal, tau – tau disuruh ngumpulinnya ga sesuai deadline dengan alasan SOLIDARITAS (solidaritas ndasmu mlocot….), saya sih nggak sudi. Daripada hasil kerja saya nggak diterima gara – gara telat? Apa yang kalian lakukan selama waktu 2 minggu itu teman – teman? Apakah 2 minggu sangat kurang untuk buat mind map? Oke, mungkin tidak semua memiliki hidup yang segabut saya.

TETAPI. Saya punya prinsip yang diajarkan orang tua saya dan mesti saya pertahankan. Jadilah saya ngomong….

“Terserah kalian mau kumpulin kapan, gue sih kumpulin besok…..”

DUAR !!! Saya berhasil menyulut emosi teman sekelas. HUAHAHAHA.

Disindir lah, dikatain lah, well….. Saya udah biasa.

Mundur setahun lagi. Waktu itu saya kelas 11, di kelas XI IPA 5, The Semper Five 🙂 . Pelajaran bahasa Inggris ada tugas dari Mr. Tom dan mesti dikumpulkan sepulang sekolah. Nah, hari itu adalah hari yang sangat padat, sehingga tugas itu terabaikan. Saya sendiri pun hampir nggak mengerjakan. Tetapi, di sela – sela istirahat dan sisa waktu sepulang sekolah, saya maksa mengerjakan. Well, saya pun ingin langsung ngumpulin. Tetapi, yah…. Sama seperti kejadian setahun setalahnya, konflik pun terjadi. Bedanya, saya kali ini nggak sendirian. Ada 5 orang yang udah selesai tapi mereka takut ngumpulin karena ‘ancaman’ dari temen yang lain. Saya? Bodo amat, pokoknya saya kumpulin. Dan 5 anak ini mengikuti jejak saya. Dan akhirnya….. DUAR. Mr. Tom marah dengan caranya yang khas hehehhe…. dan 5 anak ini menjadi sorotan di kelas, oleh teman kami yang kesal :).

Mungkin sampai titik ini, kalian mengerti maksud dari judul postingan yang agaknya aneh ini. Mungkin ada diantara kalian yang udah berpikir saya egois dan sombong, ya terserah. Saya gak mau pencitraan kok. Tapi, alasan saya melakukan itu semua ada 2.

KOMITMEN dan KITAB SUCI.

Komitmen adalah janji, dan janji harus ditepati. Kitab suci? Well, bagi saya, nothing is better and higher than it.

Ya, sampai sekarang 2 nilai ini yang masih saya pegang dan pertahankan. Saya yakin dan percaya, sekali kita ngelanggar nilai kita sendiri, akan susah untuk mempertahankan seperti pada awalnya dan lebih susah untuk kembali ke titik awal. Saya nggak yakin bisa kembali ke titik awal kalo saya ngelanggar, makanya saya memilih untuk nggak melanggar nilai saya sendiri. Saya lebih memilih untuk mempertahankan nilai saya daripada ngelakuin sesuatu yang nggak baik dengan alasan SOLIDARITAS. Well, kalo dengan alasan solidaritas pun temen – temen mau bolos kuliah atau demo yang ngerusak atau tawuran juga bisa. Entah, mungkin memang bawaan sifat keturunan saya yang emang berkepribadian keras gini

Ketika orang – orang bilang saya sombong dan egois, saya lebih milih diemin aja. Karena, kalo saya ngebales kan seolah – olah saya menerima argumen mereka dan saya bilang “saya emang sombong”. Biarlah apa yang saya pikirkan menyatakan dirinya sendiri lewat sikap saya sama mereka.

Sampe sekarang pun, ketika mendapat tugas kelompok, saya malah jadi bingung sendiri. Antara diambil alih sendiri untuk mempertanggung jawabkan amanat, atau tetap mempertahankan kelompok untuk belajar bekerja sama? Kalo amanat diabaikan, kasian yang ngasih. Tapi kalo teman – teman sendiri saya abaikan, kasian juga mereka. Karena dengan lebih banyak otak yang bekerja sama, makin bagus hasilnya.

Maka, belakangan ini di bangku kuliah saya sedikit menahan diri dan belajar bodo amat. Saya ingin mempelajari satu nilai lagi. KERJA SAMA. (yang positif tentunya).

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *