Homoseks? Enaknya Diapain?

Posted on Posted in Faith

Selamat malam para interneters yang kebetulan mampir di blog sederhana gue ini. Setelah sekian lama ga posting, akhirnya bisa kesampean posting juga dari domisili yang baru, yaitu Surabaya *prok prok prok*

ehm…. oke, lanjut.

Postingan gue ini sedikit berbau spiritualitas sedikit,karena postingan gue ini aslinya adalah tugas renungan mentoring agama yang gajadi gue kumpulin karena lebih enak dijelasin secara lisan. Jadi harap maklum kalo bahasanya sedikit berbeda (karena gue males ngedit lagi) dan berbau spiritualis banget dan nasrani banget.

Jadi gini….

Baru – baru ini hangat dibicarakan mengenai pelegalan kawin sesame jenis di Amerika yang bertajuk LGBT. Bagi pihak yang mendukung ini berarti penyetaraan hak antara mereka yang disebut memiliki kelainan orientasi seksual, bagi yang kontra, mereka menganggap ini adalah kemunduran moral karena mendukung mereka yang memiliki gaya hidup menyimpang, layaknya mendukung pelegalan narkotika. Masyarakat pun secara umum mulai bergerak untuk cenderung mendukung homoseksualitas dengan alasan mentolerir mereka yang memiliki kelainan. Sehingga, mereka menganggap yang tidak mendukung homoseksualitas adalah berpikiran sempit.

Bagi saya pribadi, saya pun tidak menyetujui adanya pelegalan perkawinan sesame jenis ini. Mengapa? Apakah berarti saya tidak mau toleransi terhadap mereka yang memiliki kelainan orientasi seksual? Jawabannya bisa iya apabila memang homoseksualitas itu adalah sebuah kelainan. Apabila saya berbuat demikian, maka menurut pandangan masyarakat saya mengucilkan orang yang memiliki kelainan dan saya tidak menghargai sesame ciptaan Allah. Namun, apakah benar homoseksualitas juga adalah ciptaan Allah seperti layaknya orang – orang yang lahir cacat lainnya? Menurut media, homoseksualitas disebabkan karena adanya kelainan fungsi hormone dan struktur otak, sehingga merubah orientasi seksual seseorang. Sehingga secara genetis, apabila anak dalam suatu keluarga terbukti mengidap homoseksualitas maka saudara kandungnya berpotensi homoseksualitas juga. Tetapi, ada sebuah kasus di Amerika tahun 1991, dimana sebuah keluarga mengadopsi seorang anak yang belakangan diketahui mengidap homoseksualitas. Keluarga tersebut memiliki seorang anak normal yang berjenis kelamin sama dengan anak yang diadopsi. Kemudian, yang terjadi anak kandung tersebut menjadi homoseks juga. Setelah diadakan penelitian, didapatkan hasil bahwa hormone yang terdapat di kedua anak ini adalah sama. Bagaimana dengan struktur otak yang dikatakan berbeda? Ditemukan tidak ada sama sekali perbedaan. Tetapi, yang menarik adalah di dalam dunia psikologis, ada sebuah istilah neuroplasticy. Neuroplasticy adalah kemampuan otak untuk merubah pola pikar dan kebiasaannya melalui serangkaian proses yang dilakukan secara berulang – ulang. Contoh yang paling gampang adalah penyembuhan trauma, dilakukan proses terapi secara berulang – ulang supaya menghilangkan trauma seseorang terhadap suatu hal. Inilah yang terjadi pada anak tersebut dan kebanyakan orang lainnya yang mengalami perubahan orientasi seksual. Mereka secara berulang – ulang berkomunikasi dengan seorang homoseks dan yang paling sering terjadi adalah bercanda dengan gaya – gaya yang centil dengan teman sesama jenis, seperti menjamah, memeluk dan sejenisnya. Akibatnya, otak mereka lama – kelamaan merubah polanya dari normal menjadi homoseks. Sehingga, menurut saya pribadi, homoseksualitas bukanlah sebuah kelainan, tetapi “melainkan” diri dengan sebuah pilihan gaya hidup yang tidak benar.

Lalu, bagaimana kata Kitab Suci sendiri mengenai hal ini? Kitab Suci jelas – jelas mengecam homoseksualitas. Bahkan dikatakan dalam 1 Korintus 6:9 bahwa tidak seorang pun yang mengambil bagian dalam hidup homoseksualitas akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. Dari Kejadian 19:24, malaikat Allah menyelamatkan Lot dan keluarganya dari Sodom, lalu Allah menurunkan hujan api dan belerang untuk membakar kota tersebut. Pertanyaannya, apakah seorang homoseksualitas sebagai seorang pendosa sudah pasti akan dihukum oleh Allah? Tentu tidak, karena melalui Perjanjian Baru, Allah menjanjikan pengampunan bagi siapapun yang berdosa dan ingin kembali kepadanya, tidak peduli seberat apapun dosanya. Tetapi bukan berarti kita dapat terus melakukan perbuatan yang salah itu secara terus menerus.

Lalu, bagaimana sikap kita untuk menghadapi homoseksualitas ini? Mungkin beberapa orang memilih diam, daripada dipermasalahkan oleh masyarakat atau lebih buruk malah bergabung dengan para homoseks itu sendiri. Ada juga yang memilih untuk membenci mereka karena mereka adalah pendosa dan memilih gaya hidup yang menjijikan. Tetapi, adakah ayat Kitab Suci yang meminta atau memperbolehkan kita membenci pendosa? Jelas tidak ada, bahkan Allah meminta kita untuk merangkul kembali sebuah yang menjauh dari Dia untuk kembali kepadaNya. Jadi sebenarnya penting bagi kita sebagai orang yang mengimani Yesus untuk mengatakan kebenaran kepada mereka atas dasar kasih daripada membiarkan mereka hanyut dalam gaya hidup yang tidak bertanggung jawa tersebut. Karena, berdiam diri dan membiarkan para homoseks itu sama saja dengan mendukung mereka dan menjerumuskan mereka ke lubang yang lebih dalam.

Janganlah kamu membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu sendiri melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

 

Imamat 19:17-18

Dikutip dari :

  • Kitab Suci
  • Buku “Filsafat Kristen” (Bab Pandangan Ilahi Tentang Homoseksualitas), Andrew Wommack

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *