Hati – Hati Di Instagram, Mau Eksis Malah Jadi Depresi

Posted on Posted in Opini

Jadi gini ceritanya,

 

Teman – teman yang sudah mem-follow saya di Instagram, mungkin pernah melihat saya membuat InstaStory yang kurang lebih isinya seperti ini:

 

Kalo anak eksis mah enak ya, pasang foto pamer sampe endorse yang ngelike banyak. Gue aja masang foto di Instagram mikir – mikir dulu bagus apa nggak

 

*Mohon maaf tidak ada gambar, karena saya membuat InstaStory ini sudah berhari – hari yang lalu. Makanya, follow Instagram saya di @rogojagad supaya update dengan foto – foto dan InstaStory saya. #fakirFollowers

 

Ada banyak alasan kenapa saya membuat InstaStory seperti itu.

 

Karena saya terkadang suka iri melihat teman – teman saya yang cuma upload foto cangkir kopi aja dapet ratusan Like.

 

Sedangkan video Hyperlapse Balairung UI yang pengambilan foto dan ngeditnya 3,5 jam cuma dapet 30 Like (itupun gara – gara saya kasih hashtag macam – macam).

 

Belum lagi di musim liburan kemarin, banyak yang upload foto – foto liburan mereka ke berbagai tempat. Seperti Singapura, Shanghai, ke pantai, ke gunung, ke hatimu (eh). Termasuk mereka yang rajin upload InstaStory yang sampai berderet – deret.

 

Sedangkan saya cuma bisa melihat dari layar HP berbekal kuota yang pas – pasan.

 

DAMN.

 

I feel jealous.

 

But, it doesn’t feel right and I should not feel this way.

 

Masih benarkah peran social media sebagai media untuk bersosialisasi?

 

Atau sekedar sarana untuk eksis dan unjuk diri?

 

Kemudian, saya menemukan sebuah fakta menarik yang dikutip dari CNBC.com.

 

instagram bisa menyebabkan depresi

 

Di artikel tersebut, disebutkan bahwa Instagram adalah social media yang paling banyak menyebabkan remaja merasa depresi, stress dan kesepian.

 

Melalui survey yang dilakukan oleh Royal Society for Public Health (RSPH) terhadap 1500 warga Britania dari rentang usia 14- 24 tahun, ditemukan bahwa remaja yang sering menggunakan Instagram cenderung mengalami kurang percaya diri dan merasa memiliki banyak kejelekan, yang berujung pada lemah gambar diri dan kurang tidur.

 

Well, sepertinya saya juga mengalami hal tersebut.

 

Menariknya, ada seorang pendeta yang mengungkapkan hal yang sama.

 

Hari Minggu tanggal 30 Juli kemarin, saya mengikuti kebaktian di sebuah gereja di deket rumah saya. Tema kotbah yang dibawakan sang pendeta pada waktu itu adalah “Menjadi Orang Tua Untuk Anak di Generasi Digital”

 

Jujur saja, saya tidak terlalu tertarik dengan tema tersebut. Yang jelas karena saya bukan seorang orang tua (setidaknya sampai 5 tahun kedepan lah ya…) dan isi kotbahnya sudah bisa saya bayangkan. Paling tidak jauh dari kata – kata mutiara seperti,

 

“Orang tua harus adaptif dengan perkembangan teknologi”

 

“Anak – anak harus diawasi ketika bermain gadget”

 

“Batasi waktu bermain anak dengan gadget”

 

“Batasi kuota internet anak”

 

Dengan sedikit terkantuk – kantuk dan rasa bosan saya mengikuti jalannya kotbah,

(karena kalau saya ketiduran pasti dimarahin oleh orang tua saya).

 

Tetapi ada satu ungkapan yang menarik perhatian saya, pendeta tersebut berkata seperti ini (edited):

 

Sosial media memberikan arus informasi yang begitu cepat, bila tidak diolah dan diterima dengan benar, maka akan memberikan pengaruh negative bagi mental kesehatan anak. Seperti kurang percaya diri, lemah gambar diri dan depresi.

 

DAMN.

 

I think they got a point.

 

Fasilitas Cekrek dan Upload disertai dengan bekal koneksi internet, sangat mempermudah kita untuk selalu update dengan momen – momen yang kita alami.

 

Kemudian, hadirnya tap 2 kali untuk Like tentu memberi rasa bangga tersendiri ketika ada notifikasi *insert your friend’s name here* liked your post.

 

Terkadang muncul rasa persaingan dalam diri kita,

 

ketika si A upload foto liburan ke Monas,

kita nggak mau kalah dengan upload foto liburan kita di Kalijodo,

ketika si B upload foto saat lagi hiking di Kalimanjaro,

kita nggak mau kalah dengan upload foto diving di Bengawan Solo,

 

Setiap orang sibuk memposting “kebahagiaan” mereka, tanpa peduli tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengalami kebahagiaan tersebut.

 

Bahkan, rasa bangga untuk sekedar update kegiatan kita melalui InstaStory (atau Snapgram, ada yang bisa bantu saya?) atau SnapChat membuat kita kecanduan.

 

Saya nggak mau munafik, saya sendiri juga mengalami hal – hal tersebut ketika menggunakan Instagram. Memang, rasanya menyenangkan ketika ada yang memberikan Like atau komentar di postingan kita, atau banyaknya jumlah orang yang melihat InstaStory kita.

 

Namun, Forbes.com menyebutkan,

 

The researchers that published the study — which is titled #StatusOfMind — determined the results based on answers to questions about social media platforms by 1,500 young people (ages 14-24) across the UK. The study determined that social media has been described as more addictive than cigarettes and alcohol. That is why social media use is often linked to increased rates of anxiety, depression and poor sleep.

 

Mungkin saja tanpa kita sadari, kita sudah kecanduan sama yang namanya rasa pamor ini

 

Who knows?

 

Karena, kecanduan pamor di Instagram lebih bahaya daripada kecanduan narkoba atau rokok.

 

Kalau kecanduan narkoba kan keciduk BNN selesai, atau paru – paru bolong gara – gara merokok kan keliatan gejalanya. Berobat ke dokter juga bisa disembuhin (eh nggak juga sih).

 

Kalau kecanduan rasa pamor? Siapa yang tahu?

 

Mungkin disadari atau tidak, ada diantara temen – temen yang merasakan hal yang saya rasakan.

 

Depresi dan iri hati ketika melihat ada teman – teman kita yang bisa liburan dan jalan – jalan ke berbagai tempat. Atau sekedar mendapat ratusan Like di foto Instagramnya. Atau tangan rasanya gatel kalau sehari belum update InstaStory.

 

Kalau memang iya, MARI KITA KURANGI PENGGUNAAN SOCIAL MEDIA.

 

Tentu saja yang jangan kita lupakan, kebijaksanaan menggunakan social media bergantung pada diri kita sendiri. Mari kita kembalikan social media sebagai sarana untuk saling berkomunikasi dan menyebarkan rasa empati.

 

Tulisan ini bukan ujaran kebencian kepada orang – orang yang rajin update di Instagramnya, tapi hanya sekedar keresahan yang didukung fakta. Bukan juga bermaksud menggurui tentang penggunaan social media.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat dan membuat kita sadar bahwa

 

Teknologi tidak harus serta merta diikuti, dengan arus informasi yang begitu cepat dan besar, tidak ada yang dapat melindungi diri kita selain kita sendiri.

 

Akhir kata, buat yang mau liat foto – foto di Instagram saya, jangan lupa follow saya di @rogojagad. Isinya nggak banyak sih. Cuma foto – foto yang punya moment dan gambarnya bagus aja.

 

 

#promoItuWajib #fakirFollowers

 

Oiya, kamu punya pengalaman menarik mengenai social media? Ceritain di kolom komentar ya, supaya kita bisa bertukar cerita.

 

[mc4wp_form id=”1931″]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *