Hanya Sebuah Pertanyaan

Posted on Posted in Opini

Belakangan ini YouTube menjadi salah satu pilihan utama gue untuk mencari hiburan, disamping nonton film dan main game. Karena ketika gue mau nonton apapun disana gue bisa nemuin. Katakanlah dari sekedar trailer film / game, gameplay sebuah game baru (yang gue belum mampu beli), video cover musik, tutorial berbagai macam hal dan seterusnya bisa gue temukan disana dengan mudah.

Memang sih nilai jual utama dari YouTube adalah kebebasan untuk berkonten ria, dan inilah yang menurut gue membuat YouTube lebih dari TV. Ketika TV terikat rating dan peraturan penyiaran, on YouTube you can make anything you want and share it to anyone. Bahkan, menurut data di komisi penyiaran di Amerika, siaran TV mulai ditinggalkan oleh anak – anak muda. Karena mereka mulai beralih ke penyedia konten digital seperti Netflix atau YouTube.

Gausah jauh – jauh deh, di Indonesia pun peminat YouTube udah berkembang pesat banget, seiring bertambahnya juga channel – channel berkualitas buatan anak Indonesia (silahkan browsing sendiri karena berkualitas itu relatif). Bahkan, yang menarik lagi, saking berpotensinya pertumbuhan YouTuber di Indonesia, Presiden Jokowi bahkan sempat mengundang para YouTuber untuk makan siang di Istana Negara sekaligus mengajak YouTuber untuk membawa konten positif. Coba bandingin, emang pernah seorang Presiden ngundang artis FTV atau pegiat industri TV ke istana?

Subscription list gue

Oh iya, mungkin sekedar info aja, gambar diatas adalah subscription list gue hehe. Jujur aja lebih banyak channel luar daripada channel orang Indonesia. Channel orang Indonesia cuma ada 2, yaitu Tim2one punya Chandra Liow sama Agung Hapsah punyanya……Agung Hapsah.

Kata lu channel Indonesia banyak yang bagus? Kenapa lu subscribe channel luar?

Karena, channel Indonesia lebih banyak muncul di Suggestion gue, dan lebih enak nonton satu – satu dari situ. Gitu.

Apalagi sekarang lagi musimnya nge-vlog, video – video vlog bertebaran di YouTube, baik yang kontennya bagus sampe yang kurang bagus. Nah, mengenai fenomena vlogging ini, gue punya cerita menarik.

Mungkin, bagi kalian yang tahu, gue cukup sering nulis – nulis di blog gue dari kelas 2 SMA. Dan sampai saat ini, itu adalah cara yang paling nyaman buat gue untuk mencurahkan isi pikiran gue. Karena, kalo gue ungkapin lewat omongan, strukturnya pasti kacau karena pikiran gue lebih cepet daripada mulut gue. Tetapi disamping itu, akting, ngerekam dan ngedit video adalah hal yang gue senengin juga. FYI, gue udah ngedit video dari kelas 3 SMP.

Sampai suatu saat, ada temen gue yang nanya,

“Gad, lu kan bisa edit video, bisa ngerekam juga, kenapa lu nggak nyoba bikin vlog?”

Nyoba bikin vlog?

Sebenernya, ini pernah terlintas di pikiran gue dulu waktu nontonin vlognya Chandra Liow. Sepertinya kalau gue bikin vlog, gue bisa mengungkapkan pemikiran gue dengan lebih menarik dan lebih bebas. Karena, yah menurut hasil penelitian (penelitian pribadi maksudnya), orang – orang cenderung lebih tertarik dengan konten yang audio-visual (video) ketimbang hanya visual saja. Which means, orang – orang akan lebih tertarik dengan pemikiran gue andaikan gue tuangkan kedalam sebuah vlog.

Lebih bebas? Maksudnya?

Maksudnya, apapun yang mau gue omongin saat itu juga bisa gue tambahin, gue bisa improve, bisa tambahin hal – hal yang gabisa gue lakukan lewat tulisan.

Tapi kembali ke masalah awal, gue kalo menjelaskan sesuatu cenderung terlalu cepat dan strukturnya kacau. Yah, karena pikiran gue jauuuuuuh lebih cepet daripada mulut gue. Nanti, walaupun gue bikin vlog tapi kalau hasilnya susah dimengerti ya sama aja hehe. Makanya, gue lebih nyaman dengan cara menulis. Karena kalau menulis, gue pertama bisa bikin draft dulu dengan cara mengetik sesuai jalan pikiran gue. Kemudian, akan gue review berkali – kali sampai gue puas. Bahkan, ketika sudah gue publish pun, gue baca – baca lagi, selalu ada hal yang membuat gue gak puas. Belum ada postingan yang membuat gue bergumam, “Nah, ini tulisannya Jagad banget nih”. Ketika lu buat kekurangan di tulisan, lu bisa dengan mudah edit lagi kemudian di republish. Sedangkan kalau video (dibayangan gue sih), kalau ada yang salah lu susah untuk memperbaikinya.

Yah, I know what you gonna say, semua pasti ada plus dan minusnya. Namun, membuat sebuah vlog sebenernya adalah hal yang gue inginkan juga. Karena sesuai motto hidup gue.

If you enjoy it, why can’t you make it?

Gimana menurut teman – teman? Apakah bakal ada yang nonton kalau gue bikin vlog?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *