Buat Apa Belajar? Part 2

Posted on Posted in Opini

Pertama gue mau mengucapkan terima kasih kepada kalian yang membaca post gue kali ini. Itu artinya (kemungkinan) kalian udah membaca post “Buat Apa Belajar? Part 1” yang gue tulis 3 hari yang lalu dan kemudian tertarik untuk membaca kelanjutan ceritanya, atau kalian cuma sekedar penasaran dengan judul post gue yang agak sedikit ‘ekstrim’ ini :-). But, it doesn’t matter, what matters is what I am going to tell you……

Di post sebelumnya, gue banyak menyinggung soal kekurangan sistem pendidikan di Indonesia, menurut sudut pandang gue pribadi pastinya :-). Hal utama yang gue singgung adalah mengenai tujuannya yang ‘sedikit tidak terlalu jelas dan terarah’ , dalam hal ini pun gue menyoroti dua kata yaitu BERWAWASAN dan BERAKHLAK. Sayang, karena keterbatasan stamina, di post pertama gue hanya bisa berbicara soal berwawasan. Sekarang akan gue lanjutkan di post yang ini……

Berakhlak

Yah, untuk arti dari kata berakhlak itu sendiri gue kira kalian semua udah pada tau, karena gue yakin yang membaca tulisan gue ini adalah orang cerdas semua :). Sedikit gambaran buat kalian yang kurang jelas arti kata ini, berakhlak sendiri menurut gambaran sederhana gue adalah bagaimana lu bersikap dalam kehidupan sehari – hari dalam menghadapi sesuatu dengan sikap yang sesuai norma / nilai masyarakat umum (ini nggak copas dari Google…..sumpah).

Kalo kita berbicara soal akhlak, tentu erat kaitannya dengan perbuatan/tingkah laku. Sesuai kata nasehat yang sering kita denger dari guru maupun orang tua yaitu “Sikap lebih dihargai daripada isi otak”(kurang lebih kata – katanya begitu, gue nggak tau persisnya gimana), berarti kita bisa ambil kesimpulan bahwa pendidikan buat otak aja tanpa disertai pendidikan buat sikap dalam porsi yang sesuai nggak ada gunanya. Betul?

Sampai saat ini gue yakin kurang lebih 90% sekolah di negara kita ini udah memasukkan pendidikan karakter ke dalam sistem pengajaran mereka, dengan alasan sesuai dengan kurikulum dari pemerintah dan mempertahankan budaya bangsa timur yang KATANYA menjunjung tinggi sikap dan norma perilaku. Katanya sih begituuuu…………………

TAPI………

Gue nggak yakin lebih dari 50% sekolah di negara kita ini yang menyertakan pendidikan karakter dalam sistem pengajaran mereka dalam porsi yang seimbang secara REAL bukan secara PERATURAN atau PROGRAM KERJA.

Mungkin lu bertanya, “Lah, maksudnya secara real apaan? Trus apa bedanya?”

Jadi gini, dalam bahasa Inggris, REAL = KENYATAAN. Berarti secara real adalah secara kenyataan yang terjadi selama kegiatan di sekolah sehari – hari. Misalnya, teladan bersikap dari para guru buat anak didiknya, cara guru menyelesaikan masalah dengan muridnya, cara bicara guru sama murid atau sebaliknya, dan contoh yang terutama adalah penegakan dari peraturan tata tertib di sekolah ybs. Sedangkan secara peraturan atau program kerja yang gue maksud disini adalah secara……..ya peraturan. Contohnya, peraturan make seragam yang rapi, kegiatan Retret ato rekoleksi alam, kebiasaan hormat bendera dsb…….. Kalo secara peraturan gue yakin semua sekolah di Indonesia udah menerapkannya.

“Trus kenapa secara real kayanya lebih penting?”

Gini, gue akan mengutip kata – kata dari salah satu tokoh kesukaan gue, Tony Buzan dalam bukunya “The Power of Cretive Intelegence”. “Meniru adalah cara alami otak untuk belajar”. Istilahnya, cara alami seseorang buat belajar paling efektif adalah meniru/meneladani. Jadi, menurut gue, lebih efektif kalo ngajarin akhlak melalui cara real, karena si siswa lebih ‘ngalamin’ dan ‘merasakan’.

Lanjut…………..

Kenapa gue yakin dan bisa bilang nggak lebih dari 50% sekolah di Indonesia pendidikan karakternya………..katakanlah belum terlalu bagus bedasarkan apa yang udah gue jelasin sebelumnya?

Gampang banget…….. Seperti biasa gue akan ambil contoh sederhana.

Wahai para mamalia yang baru saja selesai UN seminggu lalu dimanapun kalian berada yang bisa membaca tulisan gue ini…… Beserta kalian kakak – kakak kelas kami yang udah lulus UN di tahun – tahun sebelumnya…… Masih ingatkah fenomena yang rutin ada di setiap Ujian Nasional? Yak…. Marak beredarnya bandar kunci jawaban dan bocoran soal UN.

Ya kalo marak doang gaada yang pake ya gamasalah….. Cuman, ini udah banyak beredar banyak juga yang make. Kalo lu nonton berita selama kira – kira 2 – 3 hari pasca UN kemarin, lagi rame – ramenya soal beredar bocoran soal UN. Dan yang terkenal paling banyak adalah Aceh dan Jogja (Jogja kan kota pelajar…… Heloooow). Bahkan, dari berita yang sampai ke kuping gue, walaupun gue belum meyakini kebenarannya, pembocoran soal UN dan kunci jawaban dibantu sama oknum Diknas dan guru – guru yang terlalu baik hati.

Ya walaupun ada yang berdalih, “kalau kita dapet bukan salah kita dong, terserah kita mau make apa nggak”. Gue nggak menyalahkan argumen kaya gitu. Cuman……. masa lu nggak bisa bedain mana baik dan buruk?

Dari apa yang gue tangkep dan renungkan dari kejadian ini, gue membuat suatu hipotesis, yaitu “Pendidikan di Indonesia masih cenderung menilai hasilnya”. Jelas, kalo elu beli kunci jawaban UN, dan lu dapet bagus, emang bakal tertulis di ijazah

SISWA X LULUS UJIAN NASIONAL TAHUN AJARAN 2014/2015
DENGAN NEM : –,–

DENGAN CARA : JUJUR / MENCONTEK / BOCORAN SOAL / KUNCI JAWABAN*

Apakah baris yang gue tulis miring bakal muncul? Nggak kan? Karena yang dinilai hanya hasil pendidikan otak saja, tapi hasil pendidikan karakter nggak dinilai, tentu logika paling gampang yang muncul adalah………ngapain ngedidik karakter susah – susah?  Karena kecenderungan sistem pendidikan yang sayangnya HANYA menilai dari isi otak dan nilai akhir ini sajalah yang justru bikin pendidikan karaketer jadi kurang bermanfaat. Akibatnya, banyak siswa (gue nggak bilang semua) yang justru jadi score oriented, alias yang penting nilai bagus ga peduli caranya gimana. Mau nyontek, cari bocoran soal, cari kunci jawaban, pesugihan, pelet, minta jimat dukun dll akan ditempuh cuma buat sekedar dapet nilai bagus.

Bedasarkan penjelasan itu, banyaknya bandar kunci dan bocoran di wilayah sekolah gue, banyaknya pengguna kunci jawaban dan bocoran soal di sekolah gue sendiri dan di berbagai sekolah yang gue tau dari berita……………munculah hipotesis gue tadi.

Terus akibatnya apa? Ya jelas dong…..contoh nyatanya? Liat aja orang – orang yang duduk di DPR, dan berbagai macam orang yang akrab sama kegiatan curang, korupsi dsb yang sering lu liat sehari – hari (gaakan gue sebut, soalnya takut bermasalah, tapi gue rasa lu ngerti yang gue maksud). Itulah menurut gue contoh paling nyata dari pendidikan yang mengutamakan otak dan nilai dan menomorduakan pendidikan sikap. Karena, menurut gue, berbuat korupsi dan curang  itu memerlukan kecerdasan dan kepintaran yang lumayan. Bayangin aja….. Pertama lu harus pinter cari peluang dan analisis keuntungan yang lu dapet, kedua lu harus pinter – pinter manipulasi dan negosiasi tanpa menimbulkan kecurigaan, dan yang terpenting, lu harus punya keberanian buat eksekusi semua rencana lu. Jadi kesimpulannya…….orang DPR itu pinter – pinter 🙂

Jadi, yang ingin gue katakan melalui dua postingan ini adalah, pendidikan yang baik itu hendaknya disesuaikan dengan minat dan potensi anak yang mau dididik. Dengan alasan berwawasan, bukan berarti seseorang itu harus bisa menguasai semua mata pelajaran yang ada sebanyak mungkin yang nggak akan jelas manfaatnya buat dia, BUKAN seperti itu. Berwawasan berarti tahu banyak mengenai sesuatu yang dibutuhkannya dan diminatinya dengan tetap dibekalin kemampuan – kemampuan dasar SECUKUPNYA. Kalo dia memang minat dalam berbagai bidang, ya barulah dikasih wawasan macem – macem. Kalo dia minat dalam seni, biarkanlah mengeksplor dunia seni dan beri dia wawasan tentang seni. Kalo minat Fisika, arahkan dan beri wawasan tentang Fisika. Karena, Einstein atau Sir Isaac Newton pun, disuruh bikin lukisan sekelas Leonardo da Vinci pun gaakan bisa, ato disuruh bikin cerita sekelas William Shakespeare. Tapi, jangan lupa juga, selain otak, sikap yang baik pun diperlukan juga. Pendidikan karakter pun menurut gue gausah pake cara – cara ribet dan makan sumber daya. Cukup dengan cara sederhana di sekolah dan utamanya dirumah. Yah, contoh sederhana, kalo dirumah gue dibiasain habis makan harus cuci piring. Walau sepele, gue bisa belajar mandiri dan ngehargain hal – hal kecil.

Semua tulisan ini murni dari pemikiran gue sendiri, andaikan ada yang kurang berkenan atau salah, saran, kritik dan komentar membangun sangat diharapkan :).

Humans are learning creature

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *