Buat Apa Belajar? Part 1

Posted on Posted in Opini

Di malam yang sepi dan indah di masa liburan panjang ini (buat anak kelas 3 SMA), disaat gue sedang mengganggur, tiba – tiba gue mendapat ilham dan panggilan untuk menulis di blog. Segera lah gue nyalakan komputer….sambungin internet….log in di wordpress….renggangin jari tangan…. Here we are.

Sebelum gue memulai lebih jauh, melalui tulisan ini gue nggak bermaksud menyerang atau menyindir pihak – pihak tertentu, tulisan ini MURNI perenungan gue sendiri bedasarkan kejadian yang sering gue liat di lingkungan sekitar gue yang terdekat. Kalo ada kejadian yang serupa, ya berarti hal itu termasuk bahan perenungan gue juga :). Kalian terima atau nggak, suka atau nggak….. ya monggo, dinikmati saja.

Jadi begini, sejak gue mulai mencari tahu apa sih fungsinya kita sebagai siswa itu harus sekolah (berarti tepatnya sejak gue SMA pertanyaan ini muncul di benak gue), gue mulai banyak membaca berbagai hal mengenai pendidikan dan segala macamnya, terutama mengenai dunia pendidikan di Indonesia. Dan menurut gue pribadi, gue nggak bilang pendidikan di Indonesia itu bobrok, NGGAK. Gue cuma mau bilang, kalo lu mau membicarakan berbagai macam kekurangan dan masalah sistem pendidikan¬† di Indonesia itu NGGAK AKAN ADA HABISNYA. Yak, bahkan menurut gue pribadi, bedasarkan apa yang telah gue baca dan pelajari, hal – hal yang bersifat fundamentalis (bahasa kasarnya : pondasi, hal dasar dsb) pun nggak jelas dan “tidak baik”.

Oke, sebelum kita melangkah lebih jauh lagi, mungkin ada baiknya pembaca sekalian mendengarkan Sound Cloud Deddy Corbuzier tentang pendidikan di Indonesia sebagai bahan referensi aja. Karena materi gue malam ini nggak beda jauh dari situ.

Berikut linknya : https://youtu.be/lIxZF5HpAls

Lanjut….

Kok bisa – bisanya gue ngomong gitu? Begini, gue akuin gue nggak tau apa persisnya tujuan pendidikan di Indonesia, tapi gue tau bahwa tujuannya nggak jelas. Ya mungkin “membuat anak – anak Indonesia menjadi berwawasan dan berakhlak“. It’s okay if they say so, tapi sekali lagi gue mengatakan bahwa tujuan itu NGGAK JELAS, (mohon diingat, gue nggak bilang pendidikan di Indonesia gapunya tujuan). Perhatikan kata – kata yang gue sorot, berwawasan dan berakhlak. Kita mulai dari kata berwawasan dulu.

Berwawasan
Mungkin berlandasakan kata – kata ini, sistem pendidikan di Indonesia berani masang peraturan yang mengaharuskan semua siswa WAJIB menguasai SEMUA mata pelajaran. Entah Bahasa, Matematika, Olah Raga, Kesenian, Sejarah, Biologi, Geografi dsb…….. Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan mempelajari semua hal tersebut membuat siswa menjadi berwawasan luas? Apa alasannya? (Coba jawab pertanyaan ini dalam hati baru lanjut membaca)

.

.

.

.

.

.

Mungkin banyak diantara pembaca menjawab YA, karena berwawasan luas berarti tahu mengenai banyak hal.

Oke….. Sekarang, marilah kita anggap bahwa jawaban itu benar. Tetapi, apa jaminannya berhasil menguasai hal – hal tersebut semua siswa akan menjadi orang sukses kedepannya? (Sekali lagi jawab dulu dalam hati)

.

.

.

.

Mungkin banyak diantara pembaca yang menjawab, “Jelas dong, dengan menguasai semua pelajaran itu, siswa dapet jaminan bisa belajar di sekolah yang bagus, dapet nilai bagus, bisa lulus UN dengan NEM bagus, karena Rapot bagus bisa keterima SNMPTN di Univ bagus, lulus dari Univ bagus bisa kerja di perusahaan bagus”.

Tuh, apa kalian menyadari sesuatu yang sama dengan gue ketika pertama kali mendengar pernyataan seperti ini dari kerabat gue. Yak….. Kita belajar susah – susah seolah – olah cuma sekedar sebagai ‘tiket’ aja, kasarnya cuma buat sekedar FORMALITAS.¬† Contoh sederhananya begini, lu mau jadi seorang insinyur teknik sipil. Otomatis selama di SMA anda harus ikut jurusan IPA. TAPI, selama di SMA anda harus belajar Biologi juga. Buat apaa?? Cuma buat lulus UN sama menuhin nilai buat SNMPTN. Kalo buat gue sih lucu amat sistem kaya gini……..

Mungkin ada diantara pembaca yang ngomong, “Berani amat lu ngomong kaya gitu, kaya tau aja”. Yah, seenggaknya gue ga perlu jelasin panjang lebar, cukup ambil contoh sederhana. Kalo lu berani, samperin guru mata pelajaran tertentu disekolah lu yang lu anggep paling jagoan. Lalu tanyakan dia pelajaran yang bukan bidangnya, semisal guru Kimia lu tanyain tentang seni rupa, ato mau ekstrem lagi? Guru seni rupa tanyain tentang teori atom Niels Bohr, kalo nggak mau terlalu ektrim, coba tanyain guru Biologi lu soal Dinamika Partikel. Gue yakin hampir 90% mereka nggak bisa jawab pertanyaan itu. Atau mungkin diantara lu semua yang orang tuanya punya profesi tertentu, katakanlah pengusaha kerajinan batu akik (*yaelah). Tanyain dia soal Perhitungan Dot Matriks Vektor, gue berani yakin 90% beliau nggak bisa jawab. TAPI, coba tanyain dia soal teknik kerajinan batu akik, ato nggak filosofi – filosofi tentang batu akik. Gue yakin pengetahuannya cap jempol dan bisa jawab dengan lancar.

Ngerti bedanya?

Memang sih tujuannya baik, membuat anak Indonesia menjadi berwawasan luas. TAPI, buat apa berwawasan kalo nggak disaring dan diseleksi sesuai yang kita MAU dan pastinya BAKAL kita butuhin. Ngespam doang, kan? Ibarat lu punya memori di HP sebesar 16 GB, terus semua file lu masukin situ tanpa disaring, entah foto, video, musik dll, dengan alasan “HP gue paling adalah HP paling lengkap sedunia”. Yah, bagi orang yang punya logika dan nalar tentu akan berkata orang semacam ini adalah GOBLOK.

Sekedar opini pribadi buat beliau – beliau yang mengurus dunia pendidikan di Indonesia, nggak ada manusia yang sempurna yang bisa menguasai semua mata pelajaran. Bahkan, orang – orang yang sekarang sudah bekerja dan bahkan ada yang menjadi guru mata pelajaran tertentu, SADAR dan TAHU bahwa banyak yang mereka pelajari di sekolah dulu tidak berguna di kehidupan mereka sekarang, KECUALI hanya sekedar sebagai syarat lulus. Oleh karena itu, daripada memaksakan siswa mempelajari banyak mata pelajaran hanya sekedar sebagai syarat lulus doang, kenapa nggak dari awal ditelusurin minat dan bakat mereka sejak awal sekolah dan diberi porsi lebih bagi mereka yang BERMINAT dan MEMBUTUHKAN. Sehingga, pada akhirnya terbentuk tenaga ahli professional yang jelas bidangnya apa, bukannya membentuk tenaga kerja yang semua kemampuannya sama.

Your brain is like a garbage bin, you can choose which one you’d like to put inside it and not.

Bersambung ke Part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *