SBMPTN, Aneh Gak Sih?

Posted on Posted in Opini

SBMPTN 2017Buat teman – teman kelas 3 SMA, sekarang sudah memasuki tahun 2017 , sudah semester 2 dan juga sudah di penghujung masa – masa SMA (get ready to say goodbye). Artinya kalian akan kehilangan teman – teman (HAHAHA) dan akan bersiap – siap menghadapi seleksi untuk masuk perguruan tinggi negri, baik yang jalur rapot (atau raport, nulisnya gimana sih?) yaitu SNMPTN 2017 atau jalur tes yaitu SBMPTN 2017 (buat yg SBMPTN, website resmi bisa dilihat disini).

Saya sendiri disini gaakan ngasih tips – tips supaya kalian lolos, gaakan kasih soal atau tutorial dan sebagainya, karena udah banyak di internet. Lagian, saya cukup yakin kalian udah ikut bimbel – bimbel yang mahal itu.

Tetapi. Saya pengen sedikit bercerita tentang keanehan yang ada di seleksi masuk berbasis tes ini, seenggaknya ini yang saya rasakan secara pribadi.

Pertama – tama, saya mau memberitahu bahwa posisi saya saat ini adalah mahasiswa tahun ke-2, di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (silahkan cari sendiri dimana tempatnya). Saya LOLOS SBMPTN. So, I’d like to remind you, this article is NOT a hate speech about SBMPTN, it’s pure my opinion. Further, I hope this will be an evaluation and feedback for our government.

SBMPTN sebagai seleksi untuk masuk perguruan tinggi menggunakan sistem ujian, artinya peserta nanti akan diuji dengan sejumlah mata pelajaran untuk menguji kompetensi mereka. Secara umum, yang akan diujikan adalah TKPA (Tes Kemampuan Potensi Akademik), Matematika Dasar dan Bahasa Indonesia & Bahasa Inggris. Jadi total secara umum ada 3 subjek. Kemudian, akan ada pengelompokan bedasarkan jurusan yang diambil di PTN, yaitu SAINTEK (Sains dan Teknologi) dan SOSHUM (Sosial dan Hukum). Karena saya dulu SAINTEK, saya tahu bahwa mapel yang diujikan ya semua subjek IPA, yaitu Biologi, Kimia, Fisika dan Matematika IPA, untuk soshum silahkan tanya web sebelah.

Bila tidak berubah, maka sistem SBMPTN 2017 setau saya akan tetap seperti itu.

Keanehan yang saya rasakan bukan berada di bagian umum, melainkan di pengelompokan sesuai jurusannya. Karena, di subjek uji umum yang diuji memang yang bersifat umum dan mendasar. Tetapi, di bagian subjek uji sesuai pengelompokannya itu yang menurut saya aneh.

Kenapa?

Ya karena yang diujikan semua mata pelajaran sesuai subjeknya.

STOP. Ya, anda nggak salah baca. Semua mata pelajaran yang sesuai subjeknya diujikan. Dan yang menurut saya aneh, kenapa semua mata pelajaran itu diujikan walau tidak relevan dengan jurusan yang dipilih siĀ  peserta?

Misalnya saya adalah peserta SBMPTN, saya memilih jurusan Teknik Informatika di univ. A, B dan C untuk 3 pilihan saya. Lantas, kenapa saya harus belajar dan diuji pelajaran Kimia, Biologi dan Fisika? Apa hubungannya? Toh, ketika kuliah saya nggak mempelajari 3 pelajaran itu.

Ketika saya memilih jurusan Teknik Mesin, kenapa saya harus belajar dan diuji Biologi?

Ketika saya memilih jurusan Kedokteran, kenapa saya harus belajar dan diuji Fisika dan Matematika?

Ketika saya memilih jurusan Arsitektur, kenapa saya harus belajar dan diuji Biologi dan Kimia?

Aneh kan? Toh kenyataannya bedasarkan pengalaman saya ikut SBMPTN dan kuliah selama 1,5 tahun, benar dugaan saya sejak sebelum SBMPTN. Selama kuliah, sudah nggak pernah lagi saya menyentuh Biologi, Kimia dan Fisika. Kenapa saya harus repot – repot diuji 3 mapel itu?

Pertama, sudah cukup aneh pelajaran yang tidak berhubungan dengan jurusan saya ikut diujikan. Masih ada keanehan lain lagi. Yaitu, justru hal – hal yang relevan dan berhubungan dengan jurusan yang saya pilih tidak diujikan SECARA KHUSUS.

Semisal, saya memilih jurusan Teknik Informatika. Tetapi, ketika SBMPTN saya nggak pernah diujikan mengenai struktur logika, mengenai sintaks pemrograman dasar atau materi umum mengenai jurusan itu. Atau bisa dikatakan, ilmu mengenai jurusan itu.

Ketika saya memilih jurusan Arsitektur, apakah ada ujian menggambar?

Ketika saya memilih jurusan Biologi atau Kimia, adakah ujian praktikum?

Kalo mengadakan ujian praktikum tentu akan makan resource besar, tapi setidaknya adakah ujian mengenai wawasan peserta terhadap jurusan yang dia pilih?

“Loh tapi kan ada yang udah diujikan di mata pelajaran itu?”

Memang, tapi seberapa mendalam sih? Apakah dijamin muncul di setiap paket soal? Paling hanya satu dua soal saja.

Karena begini, kombinasi 2 keanehan itu akan menimbulkan hal yang tidak fair.

Begini.

Katakanlah ada 2 peserta SBMPTN, yaitu A dan B dengan karakter masing – masing sebagai berikut.

A : Tahu betul mengenai jurusan pilihannya, tau passion dan bakatnya. Kurang dalam pelajaran IPA secara umum

B : Kurang tau mengenai jurusan pilihannya, kurang tau passion dan bakatnya. Pinter belajar dan pinter pelajaran IPA.

Pada saat SBMPTN, keduanya memilih jurusan yang sama. Dengan sistem SBMPTN sekarang, dengan akal sehat tentu kita tahu bahwa B yang berpeluang lolos lebih besar. Tentu nggak adil, ketika udah memasuki jurusan yang dipilih, sudah seharusnya yang diterima adalah yang tahu passionnya dan yang jelas mengenai jurusan yang dia pilih (lha wong namanya aja udah JURUSAN), tetapi yang punya kesempatan lebih besar adalah yang…….well, hanya pinter belajar.

Kenapa buat saya ini nggak adil? Karena, buktinya yang saya lihat sendiri di jurusan saya, banyak yang merasa salah jurusan dan akhirnya malah males – malesan kuliahnya. Ketika saya tanya, saya ketahui bahkan mereka nggak tahu apa – apa mengenai jurusan yang mereka pilih, mereka hanya belajar, belajar, belajar secara BUTA buat mempersiapkan SBMPTN, akhirnya jatah kursi yang mereka duduki jadi percuma. Karena masih banyak orang diluar sana yang mungkin mereka memiliki passion di jurusan ini, tapi kurang kemampuan untuk mempelajari mapel nggak berhubungan tapi wajib. (bisa baca juga disini)

Yah mungkin anda bilang, itu untuk benar – benar membuktikan kualitas peserta yang diterima di perguran tinggi negeri. Oke, kalau begitu saya tanya ke anda 2 hal.

  1. Lebih berkualitas anak yang cuma modal rajin belajar doang atau yang udah tau passion dan arah serta punya wawasan tentang jurusannya?
  2. Kalo memang SBMPTN sudah teruji membuktikan kualitas peserta yang diterima di PTN, kenapa masih ada mahasiswa yang merasa salah jurusan? Terus gimana cara anda mengatasinya?

Tapi disamping keanehan dan masalah yang saya ceritakan, saya punya usul yang mungkin bisa berguna. Mungkin sebaiknya TKD (Tes Kemampuan Dasar) yang bedasarkan kelompok, tidak perlu bedasarkan secara umum Soshum dan Saintek. Tetapi cukup dengan TKD Jurusan dengan mata pelajaran yang memang ada hubungannya.

Jadi, sedikit penggambaran untuk teknisnya begini. Di kartu peserta tulisannya jurusan apa aja yang diambil. Nah, bedasarkan jurusan yang dipilih itu, didalamnya sudah tertulis subjek apa saja yang harus diujikan. Misalkan saya memilih jurusan Teknik Informatika, nah subjek yang harus diujikan : Wawasan Jurusan, Logika, Sintaks Pemrograman Dasar ditambah Matematika IPA. Kira – kira begitu.

Karena, dengan sistem yang ada sekarang terlalu membuang – buang sumber daya si peserta untuk hal yang tidak berhubungan denga jurusan yang dia pilih dan passionnya. Karena harus mempersiapkan 7 pelajaran untuk SBMPTN adalah hal yang berat, apalagi bila tidak akan berhubungan dengan jurusan yang dipilih, hanya akan menjadi beban saja.

Permasalahan ini berhubungan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang punya pemikiran bahwa “Semakin banyak semakin bagus”.

Lakukanlah sesuatu karena esensinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *